TetehnyaaJisung

Dia menjauh, tapi tidak benar-benar jauh.


SMA-Revisi

Sudah satu minggu sejak Abin benar-benar menepati seluruh kalimatnya, mengirimkan uang sebesar yang Saranita butuhkan untuk sekolah. Itu sebabnya perempuan itu ada di sini, di kantin sekolahnya dengan menatap Aksara yang sedang mengantre sesuatu di hadapannya. Saranita tidak mengerti, Aksara seperti sedang mengasingkan dirinya sendiri. Pria itu bahkan tidak tersenyum selembut biasanya saat Saranita pertama kali hadir di sekolah lagi.

Saat itu Saranita ingat, Aksara hanya mengulum senyum seadanya tanpa menuliskan satu kata sambutan apapun. Kendati begitu, Aksara masih dengan sukarela mendengarkan isi hati Saranita.

“Arditho?” Saranita menyipit, sedikit menjauhkan gelas berisi teh manis miliknya. Mata perempuan itu tidak pernah lepas dari setiap pergerakan pria yang ia sebutkan namanya tadi. Pasalnya Arditho sedang berfokus memasukkan hampir satu botol penuh sambal ke dalan mangkuk Aksara yang ada di mejanya.

Perempuan itu berdiri dari kursi, berjalan menghampiri meja Aksara yang hanya diisi oleh satu mangkuk bakso. Di sebelah meja Aksara ada Arditho dan teman-temannya sedang tertawa puas karena kini Aksara sudah kembali dari membeli minuman.

“Aksa, jangan dimakan!” Saranita berteriak lantang, membuat hampir seluruh isi kantin memerhatikannya tanpa berekedip. Sedangkan Aksara masih fokus mengaduk kuah bakso tanpa menatap Saranita yang sudah berdiri di hadapannya.

Perempuan bersurai legam itu berdecak saat menyadari kalau Aksara tidak memakai alat bantu dengar. Namun sedetik berikutnya, senyumnya terangkat kecil—Saranita tahu, bahwa Aksara akan menuruti perkataannya. Perlahan kuasa Saranita terangkat untuk menyentuh bahu Aksara, “Alat bantu dengar lo, dimana?”

Aksara hanya diam, menatap Saranita kebingungan. Tapi pelan-pelan ia kembali memakai alat yang membuat dirinya ketergantungan akan itu. Kuasa Aksara bergerak, “Kenapa?

Dari seluruh bahasa isyarat, Saranita hanya mengerti satu kata itu saja. Kemudian perempuan itu mengambil alih mangkuk bakso Aksara, memindahkannya di hadapan Ardhito yang sedang terbahak puas. “Makan!”

“Sar?” Arditho mengerinyitkan dahi, bingung.

Saranita menarik sebelah sudut bibirnya, membuang tatapan ke segala arah beberapa detik. Tapi setelahnya, tatapan tajam bak pisau yang telah diasah itu kembali mendarat di netra Arditho. “Gue bilang makan!”

Seluruh isi kantin memerhatikan keduanya, namun Aksara justru bingung dan menahan Saranita untuk tidak mencari masalah dengan Arditho.

Kalau di luar sekolah ada Ajinaka, maka di dalam sekolah ada Arditho Prahana yang akan dengan setia mengganggu atau mencemooh Aksara. Bahkan kejadian pada satu minggu yang lalu, Aksara jatuh dari atas tangga itu juga ulah Arditho dan teman-temannya.

“Ngapain lo liatin doang? Makan!” Saranita naik pitam saat melihat tidak ada pergerakan sedikitpun dari Arditho. “Lo sengaja kasih setengah botol sambal ke mangkuk Aksara biar dia sakit perut dan akhirnya enggak ulangan Matematika wajib, kan?”

Arditho bergeming, sedangkan temannya yang lain menatap Saranita tidak percaya. Pasalnya mereka memang tidak memberitahu siapapun tentang hal ini.

“Jangan jadi bodoh, Arditho Prahana yang terhormat. Kalau mau cari gara-gara sama Aksara, lo salah orang.” Saranita terkekeh, telunjuknya terangkat tepat di hadapan wajah Arditho.

Pria berambut cokelat tua itu marah, ia menyingkirkan tangan Saranita dari hadapannya dengan kasar. “Lo ... gue enggak ada urusan sama lo!”

“Makan!” Saranita membentak tidak terima. Atmosfer di dalam kantin berubah mencekam karena sisi menakutkan dari Saranita akhirnya keluar juga.

Setelah bentakan Saranita tadi, ada yang menarik perhatian seluruh pasang mata di kantin sekolah. Tentang Aksara yang kini menautkan jemarinya pada milik Saranita, dalam diam mengusap tangan perempuan itu lembut seolah menyalurkan sedikit rasa tenang.

Di tempatnya Arditho justru terkekeh, tatapannya tidak pernah lepas dari setiap pergerakan Saranita. “Saranita Senja, lo tuh enggak cukup berguna untuk orangtua lo! Jangan jadi sok pahlawan untuk orang lain kalau untuk keluarga sendiri lo enggak bisa.”

Saranita marah, matanya memerah menahan amarah. Kalau di serial drama Korea kebanyakan, mungkin saat ini sudah ada gambar tanduk berwarna merah di atas kepala perempuan itu. Saranita paling tidak suka kalau seseorang yang bahkan tidak ia kenal justru membicarakan keluarganya seolah-olah tahu segalanya. Tangan Saranita terangkat mengambil mangkuk bakso Aksara, menyiram seluruh isinya pada wajah Arditho. Saranita tidak lupa bahwa ada setengah botol sambal di dalamnya, Saranita juga tidak lupa bahwa orangtua Arditho adalah donatur terbesar di sekolah ini. Saranita ingat, ingat dengan jelas semuanya. Tapi Saranita bukan tipikal manusia yang akan diam saja saat dirinya dihina atas dasar keluarganya.

Keluarganya sudah hancur, tidak patut untuk dibicarakan.

“Bawa, bawa ke UKS!” Satu orang teman Arditho berteriak jelas, pergerakannya cepat sekali untuk membantu karibnya itu berjalan menuju pertolongan pertama.

Walaupun Arditho sudah tidak ada di hadapannya, Saranita tahu kalau Arditho sempat bicara satu hal sebelum pergi. “Gue enggak akan biarin lo punya masa depan, Saranita.

Saranita hanya menoleh, menatap Aksara yang juga menatapnya penuh. Jemarinya sudah dilepaskan, tidak ada lagi saluran rasa hangat juga ketenangan yang penuh di sana. “Lo... enggak apa-apa, kan?”

Pria itu tersenyum manis, manis sekali. Kuasanya terangkat untuk mengusap rambut Saranita hati-hati. Sebab Aksara tahu setelah kejadian ini akan ada banyak sekali masalah yang Saranita hadapi. Ingin rasanya Aksara bertanya mengenai perasaan perempuan itu, tapi setelah mengingat pesan Saranita semalam, Aksara jadi ragu atas perasaanya sendiri.

“Sa, gue ada salah sama lo, ya?”

Setelah keadaan kantin cukup tenang, tidak ada lagi yang memerhatikan mereka, Aksara membawa Saranita untuk duduk di kursinya. Kedua sudut bibir pria itu terangkat separuh, tangannya beralih untuk menuliskan sesuatu di atas buku catatan.

IMG-20210619-193923

Setelah membaca, kerutan di dahi Saranita terlukis begitu saja. “Kenapa? Mau cerita?”

Dalam diam dan keheningan, Aksara hanya menggeleng kecil. Ia menyukai Saranita sejak awal, tapi kenapa ketika perasaan itu mulai lebih tumbuh dan berkembang, justru semuanya tidak terbalas.

IMG-20210619-193937

Saat Saranita ingin menoleh untuk menodongkan sebuah kalimat pada Aksara, netranya malah mendapati Ananda yang sedang berdiri di hadapannya dengan wajah datar. “Ngapain, Nan?”

Ananda Gautama menghela napas, ia duduk tepat di hadapan Saranita. Bola mata pekat itu sekilas mengarah pada Aksara, lalu kembali berlabuh pada milik lawan bicaranya. “Kepala sekolah ada niat buat manggil Ibu lo hari ini juga.”

Saranita tahu, hari ini akan datang—hari dimana Ibu akan datang ke sekolah untuk menangani masalahnya. Ia jadi ingat, dulu Ayah-lah yang selalu datang ke sekolah setiap Saranita memiliki masalah, tapi hari ini Ibu—orang yang justru Saranita tidak pernah bisa pahami hatinya.


Di depan pintu, Saranita disuguhi pemandangan wajah marah Ibu yang sedang menatap lurus-lurus ke depan. Walau jantungnya berdetak cepat, perempuan itu sebisa mungkin membawa langkah kakinya tanpa tergesa untuk menghampiri Ibu. Tangannya terangkat untuk mengambil jemari Ibu, dikecup dengan senyum tipis penuh rasa takut.

“Duduk!” perintah Ibu dengan suara rendah. Kalau boleh meminta, Saranita akan merasa lebih tenang jika Ibu mengeluarkan seluruh amarahnya seperti siang tadi di sekolah. Saranita lebih baik Ibu membentaknya seolah apa yang terjadi adalah kesalahan perempuan itu. Karena ketika Ibu berbicara dengan suara rendah, Saranita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya—sebuah perbandingan yang akan membuat dirinya kalah telak oleh Ibu.

“Bu, Saranita ngelakuin itu ada alasannya.” Lagi, dadanya naik dan turun seiring dengan napas yang keluar tidak beraturan.

Ibu melempar satu map kertas berwarna cokelat, meminta Saranita untuk membaca seluruh isinya. “Besok minta maaf sama mereka. Ibu enggak mau kamu dikeluarin dari sekolah cuma karena masalah ini.”

Saranita bangun dari duduknya, “Ibu bener-bener minta Saranita untuk minta maaf atas kesalahan orang lain?”

Pada dasarnya, Saranita tidak perlu meninggikan intonasinya saat berbicara pada Ibu. Wanita berumur hampir senja itu mendaratkan kuasanya pada pipi kanan Saranita. Ibu tidak tahu tempat, padahal mereka sedang duduk di ruang kepala sekolah—diberi waktu untuk berbicara tentang hal yang terjadi.

“Ibu bener-bener enggak percaya sama Sara?” Saranita merendahkan nada bicaranya, ia menatap Ibu tidak percaya. Setahu Saranita, Ibu akan membela Fina dan Esa mati-matian jika di antara mereka ada yang membuat masalah di sekolah. Hal itu membuat Saranita bingung, kenapa Ibu berbeda?

“Sesusah itu buat Ibu taruh kata percaya di pikiran untuk Saranita, Bu?” Saranita tidak habis pikir, bahkan orang yang selalu bersamanya saja tidak pernah meletakkan kata percaya untuknya. Tangan Saranita mengepal sampai buku jarinya memutih, “KALAU IBU PIKIR SARANITA SELALU MEMBELA AYAH, IBU SALAH! KARENA—”

Plak

Satu tamparan lagi berhasil mendarat di pipi kiri Saranita. Kalimat perempuan itu terputus begitu saja, rahangnya mengeras karena menahan sebuah rasa yang bergejolak di dalam dada. Karena di hadapannya Ibu, Saranita tidak mampu mengeluarkannya. “Ibu ... Ibu serius tampar Sara?”

Di luar ruang kepala sekolah, tidak sedikit orang yang menyaksikan kejadian dimana Ibu menampar Saranita.

“Anak tidak tahu diuntung!” Setelah bentakan itu didengar oleh Saranita, tangan Ibu bergetar. Diam-diam wanita itu meminta maaf pada putrinya, meminta maaf karena ia tidak dapat mengontrol emosinya sendiri. “Sa.. Sara...”

Saranita tidak menangis, perempuan itu justru membuang tatapannya dan terkekeh kecil. “Anak enggak tahu diuntung?” Jemari Saranita terangkat, menunjuk ke arah jendela dimana banyak pasang mata memerhatikannya termasuk Aksara. “Ibu permaluin Saranita di depan banyak orang, Ibu masih bilang Saranita anak enggak tahu diuntung?”

Ibu hanya diam, menatap satu persatu pasang mata yang kini memerhatikan Saranita. Tapi tiba-tiba pintu ruang kepala sekolah terbuka, menghadirkan sosok Aksara yang berjalan kian mendekat. Tangan pria itu terangkat untuk membawa Saranita pergi dari hadapan Ibunya.

Aksara tidak pernah tahu dengan jelas bagaimana hubungan Saranita dengan Ibunya. Pria itu hanya tahu bahwa satu minggu yang lalu Saranita beradu argumen dengan Ibunya lewat telepon mengenai Fina dan Esa, hanya itu saja. Aksara kira, ia sudah tahu segalanya tentang Saranita. Ternyata ia salah, ia hanya baru meraba kehidupan Saranita tanpa menyelam lebih dalam.

“Sa, berhenti.”

Saat rungunya yang dibantu dengan alat menangkap suara Saranita, pria bersurai legam itu menghentikan langkah mau tidak mau. Kuasanya terangkat untuk mengusap pipi Saranita yang sebelumnya kena tamparan kasar itu lembut.

“Aksa,”

Aksara mengangkat kedua sudut bibirnya, pria itu membawa Saranita untuk duduk di kursi semen yang terletak di belakang gedung sekolah. Tangannya bergerak, “Kenapa?

“Lo enggak kenapa-napa?”

Jalan pikiran Saranita memang tidak pernah terduga, sampai kini membuat Aksara justru menggelengkan kepalanya karena bingung. Padahal, pertanyaan itu harusnya dilontarkan oleh Aksara, tapi kenapa justru Saranita yang mengambil alih?

“Aksara,” Saranita menghentikan ucapannya, kalimat tanya yang lagi-lagi ingin ia lontarkan harus kembali terpendam saat netranya mendapati Aksara yang sedang menuliskan kalimat di atas catatannya.

IMG-20210619-213557

Saranita menggeleng, namun air matanya bergerumul di pelupuk mata. Ia menengadah, berharap lebih pada dirinya sendiri—setidaknya ia tidak menangis di hadapan Aksara.

“Gue enggak suka kalau lo jauh, Aksa.” balas perempuan itu. Karena Saranita sendiri tidak pernah mengerti kenapa ia tidak pernah merasa jauh lebih baik kalau tidak bersama Aksara. “Gue ...”

Aksara mengangguk seolah mengerti, kuasanya lagi-lagi bergerak untuk menuliskan kalimat di atas kertas.

IMG-20210619-213612

Perempuan itu menggeleng, “Lo pergi, Aksa. Lo pergi.”

Perlahan Aksara membawa Saranita untuk masuk ke dalam pelukannya, mengusap kepala perempuan itu lembut. Dalam hati Aksara meminta maaf pada gadis kesayangannya itu karena apa yang ia telah lakukan di beberapa hari belakangan.

IMG-20210619-213638

Saranita mengerinyit saat membaca tulisan tangan Aksara, “Kok tahu?”

Pria itu malah terkekeh tanpa suara, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya lewat tulisan.

IMG-20210619-213541

Saranita hanya diam, semakin menenggelamkan wajahnya di antara ceruk leher Aksara—menghirup aroma tubuh pria itu dalam-dalam sampai dadanya terasa sesak dan akhirnya air mata mengalir membasahi pipi. Hanya Aksara yang mampu membuat Saranita menangis di hadapannya.

Juga, hanya Aksara yang mampu memberikan Dunia beserta isinya untuk Saranita.

8122500d-8399-4a42-9109-86d6b32cd20e

Perasaan nyata tentang derasnya emosi.

Saranita tidak banyak bicara setelah Aksara menemuinya di halte persimpangan dekat komplek salah satu perumahan mewah di Jakarta Selatan. Sedangkan Aksara hanya diam, kakinya mengikuti kemanapun Saranita melangkah. Ada dua kemungkinan kenapa sejak tadi Saranita hanya bungkam, menutup mulut agar suaranya tidak menguar di udara. Satu, karena ia memiliki banyak hal yang harus dipikirkan, dan kemungkinan kedua adalah karena perempuan itu tidak mau membuat Aksara repot untuk menulis sesuatu di atas kertas guna membalas kalimatnya. Kemungkinan kedua cukup membuat Aksara mengangkat kedua sudut bibirnya penuh. Namun kemungkinan pertama cukup membuat perasaanya gelisah tidak menentu.

Drrt

Saranita menghentikan langkah, membuat Aksara mau tidak mau ikut menghentikan pergerakan tuasnya. Saat perempuan itu menatap ponsel sambil menghela napas kasar, Aksara justru mengusap bahu Saranita untuk sekedar mengusir rasa berat di sana. Kepala Aksara mengangguk begitu saja saat tatapan Saranita jatuh pada matanya, seolah meminta izin untuk mengangkat telepon.

“Sa, maaf, ya? Tapi boleh lepas alat bantu dengar lo sebentar aja?”

Awalnya Aksara bingung, namun tidak lama ia melepaskan alat bantu dengarnya. Keheningan langsung menyapa, namun netranya tidak pernah lepas dari pergerakan bibir Saranita—sehingga pria itu tahu segalanya yang diucapkan oleh Saranita.

“Halo, Ibu...”

Rungu Saranita langsung disambut dengan kalimat yang membuat hatinya terasa kebal. Tidak ada lagi rasa sakit padahal Ibu memberinya sejuta sumpah serapah yang memuakkan. “Kenapa kamu hidup semaumu sendiri, Saranita? Kamu kenapa enggak pernah dengerin kata Ibu?

Jemari Saranita bergetar ketika mendengar intonasi Ibu yang kian meninggi. Ia mengulum bibir, menatap Aksara sebentar dan berharap air matanya tidak jatuh sekarang juga. “Bu,” panggilnya dengan nada suara serendah mungkin. Saranita membuang tatapan, ia takut kalau seluruh kalimatnya kembali memendam dan pada akhirnya hanya ia yang tersakiti oleh perasaannya sendiri. “Kalau bisa kita bertukar tubuh satu hari aja, Saranita mau jadi Ibu, tapi apa Ibu mau jadi Saranita? Ibu, Sara tahu kalau Ibu baru pertama kali jadi orangtua. Tapi pernah enggak Ibu berpikir satu menit aja perihal Saranita yang juga baru pertama kali jadi seorang anak?”

Saranita hanya tidak mengerti kenapa Ibu begitu egois setelah kepergian Ayah? Ibu juga begitu gengsi ketika Saranita menyudutkannya dengan kalimat kalau Ibu hanya merindukan Ayah dan tidak mampu hidup tanpa Ayah di sisinya. Apa setiap orang yang memiliki rasa cinta bisa menjadi sememuakkan itu? Maksudnya, apakah perasaan cinta itu di atas segalanya ketimbang perasaan anaknya sendiri?

Saranita cukup tidak mengerti.

“Ibu kangen Ayah, kan, Bu?” tanya Saranita telak, membuat Ibu di seberang sana tidak menyelesaikan kalimatnya. Saranita menarik napas, air matanya jatuh tepat di depan Aksara yang hanya menatapnya dalam keheningan. “Iya, kan, Bu?!”

Di seberang sana Ibu diam, membiarkan keheningan mengambil celah di antara ruang yang ada. Bagi Ibu, Saranita tidak sepenuhnya salah. Terkadang memang Ibu begitu merindukan Ayah, tapi di saat memikirkan hal menyakitkan yang pernah dilakukan Ayah, perasaan rindu itu kembali tiba dengan rasa yang berbeda. Rasa yang sampai pada detik ini Ibu selalu terluka memikirkannya, Ibu selalu takut akan sebuah kepergian. Itu sebabnya Ibu begitu marah ketika tahu bahwa Ayah pergi ke rumah untuk membawa Fina dan Esa pergi.

Kamu begitu sayang dengan Ayahmu itu sampai membela sebegitu kerasnya, Sara?!” Ibu makin menaikkn nada bicaranya. Di ingatan Ibu terlintas momen dimana Ayah mengakui sebuah perselingkuhan-nya tiga tahun yang lalu. Tangannya yang bebas mengepal sampai buku jarinya memutih, emosi yang ada di dadanya tersalur semua ke sana.

“Sara lebih sayang sama Ibu.” Mencoba untuk tetap terlihat tenang di hadapan Aksara, perempuan berkaus putih itu menghela napasnya sesaat. “Bu, enggak bisa, ya, Ibu lihat Saranita sebagai anak Ibu juga? Apa segitu sulitnya untuk memperlakukan Saranita sama dengan Fina dan Esa yang selalu Ibu jaga perasaanya? Sara terluka, Bu.”

Napas Ibu tersenggal, kepalanya pening seperti habis dihantam oleh benda yang cukup besar. Pikirannya kemana-mana, berjalan tidak seirama dengan apa yang menjadi isi hatinya.

“Bu, Saranita akan bawa Fina dan Esa pulang. Ibu yang tenang di rumah, ya? Ayah enggak akan ambil hak asuh Fina dan Esa. Ibu mengandalkan Saranita, kan, Bu?” Menunduk, menatap ujung sepatu putihnya yang sudah berubah warna menjadi kekuningan. Sepatu pertama yang Ibu belikan setelah kepergian Ayah. Saranita ingat bagaimana seri di wajah Ibu ketika menyerahkan sepatu itu untuknya waktu itu. “Tolong percaya sama Saranita, ya, Bu?”

Jangan pulang kalau tidak ada Fina dan Esa!” kata Ibu memeperingatkan, sebelum akhirnya menutup panggilan sepihak yang membuat Saranita menggelengkan kepala.

Sebenarnya Saranita tidak bisa menjamin bahwa Ayah akan dengan mudah melepaskan Fina dan Esa begitu saja malam ini. Tapi dengan segala kalimat yang udah ia susun sedemikian rupa untuk meluluhkan hati Ayah, Saranita menjadi sedikit yakin.

Tiba-tiba Aksara menyodorkan buku catatannya ke hadapan Saranita, meminta perempuan itu untuk membaca dan mengatakan sesuatu setelahnya.

Saranita melebarkan senyumnya di hadapan Aksara, kuasanya terangkat untuk membantu pria itu memasang alat bantu dengarnya. Saranita kira, Aksara tidak akan tahu apa yang ia bicarakan bersama Ibu di telepon, tapi nyatanya Saranita salah, sebab Aksara bisa membaca gerak bibir.

“Ayah... baik. Tapi gue enggak pernah mau nikah sama orang kayak Ayah.” Saranita mengambil tangan kanan Aksara, mengaitkan jari-jarinya dengan milik pria itu. Perlahan, perempuan itu melangkahkan kaki dengan mata yang menatap langit yang sama sekali tidak ada bintang hari ini.

Aksara menggerakkan tangannya yang bebas untuk bertanya, “Kenapa?

Awalnya Saranita hanya mengerinyitkan dahi, tapi pada akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud pergerakan itu. “Gue enggak mau menghabiskan waktu untuk terluka. Ayah... Ayah bikin gue takut untuk duduk di pelaminan. Ayah bikin gue enggak pernah percaya sama kata sayang, Ayah juga bikin gue enggak bisa percaya sama seorang pria.”

Pria berkaus hitam itu menganggukkan kepalanya dua kali, matanya menatap lurus-lurus ke jalanan yang kosong. Jika ia perempuan, maka ia akan mengambil langkah seperti Saranita—bahwa ia tidak akan menikah dengan pria yang seperti Ayahnya. Tapi karena Aksara seorang pria, maka ia akan mengambil keputusan bahwa ia akan menikahi perempuan yang mirip dengan Bunda. Jika suatu saat bukan Saranita jawabannya, maka ia tidak akan melakukan hal itu.

“Lo enggak mau nanya gimana perasaan gue, Sa?”

Saat kalimat tanya itu dilontarkan, Aksara menghentikan langkahnya. Dia melepaskan genggaman tangan Saranita untuk menulis sesuatu di bukunya.

Saranita diam, hanya menggigit bibir bawahnya di kolong langit mendung Kota Jakarta. Dari kalimatnya, Saranita dapat menyimpulkan bahwa Aksara bukan tipikal manusia yang akan mencari tahu apapun permasalahannya, tapi ia adalah tipikal pria yang akan selalu ada untuk orang terkasih—apapun keadaanya.

Kali ini Saranita terkekeh saat membaca kalimat itu. Rasanya seperti sedang bercanda. “Kenapa harus ngeidolain anak durhaka kayak gue? Lo tahu kalau tadi gue bentak-bentak Ibu, kan? Enggak ada yang bisa dibanggain dari gue, Aksara.”

Aksara kembali menuliskan kalimatnya, tentu dengan senyum yang begitu menenangkan.

Melihat Saranita hanya diam setelah membaca kalimatnya, Aksara bergegas untuk membuka jacket levisnya, memakaikan pada perempuan bersurai legam di sebelahnya. Entah perasaan dari mana, tapi Aksara tidak pernah mau melihat Saranita tampak bersedih. Karena kalau perempuan itu bersedih, itu artinya mata Bunda sedang memancarkan sebuah kesedihan yang membuat hatinya begitu hancur.

Melihat Saranita bersedih sama saja seperti Aksara membiarkan Bunda menangis sendirian.

“Sa, makasih, ya.”

Pria itu mengangguk, kemudian menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membuat Saranita diam-diam merasa dunianya kembali berputar secara damai.

Perasaan nyata tentang derasnya emosi.

Saranita tidak banyak bicara setelah Aksara menemuinya di halte persimpangan dekat komplek salah satu perumahan mewah di Jakarta Selatan. Sedangkan Aksara hanya diam, kakinya mengikuti kemanapun Saranita melangkah. Ada dua kemungkinan kenapa sejak tadi Saranita hanya bungkam, menutup mulut agar suaranya tidak menguar di udara. Satu, karena ia memiliki banyak hal yang harus dipikirkan, dan kemungkinan kedua adalah karena perempuan itu tidak mau membuat Aksara repot untuk menulis sesuatu di atas kertas guna membalas kalimatnya. Kemungkinan kedua cukup membuat Aksara mengangkat kedua sudut bibirnya penuh. Namun kemungkinan pertama cukup membuat perasaanya gelisah tidak menentu.

Drrt

Saranita menghentikan langkah, membuat Aksara mau tidak mau ikut menghentikan pergerakan tuasnya. Saat perempuan itu menatap ponsel sambil menghela napas kasar, Aksara justru mengusap bahu Saranita untuk sekedar mengusir rasa berat di sana. Kepala Aksara mengangguk begitu saja saat tatapan Saranita jatuh pada matanya, seolah meminta izin untuk mengangkat telepon.

“Sa, maaf, ya? Tapi boleh lepas alat bantu dengar lo sebentar aja?”

Awalnya Aksara bingung, namun tidak lama ia melepaskan alat bantu dengarnya. Keheningan langsung menyapa, namun netranya tidak pernah lepas dari pergerakan bibir Saranita—sehingga pria itu tahu segalanya yang diucapkan oleh Saranita.

“Halo, Ibu...”

Rungu Saranita langsung disambut dengan kalimat yang membuat hatinya terasa kebal. Tidak ada lagi rasa sakit padahal Ibu memberinya sejuta sumpah serapah yang memuakkan. “Kenapa kamu hidup semaumu sendiri, Saranita? Kamu kenapa enggak pernah dengerin kata Ibu?

Jemari Saranita bergetar ketika mendengar intonasi Ibu yang kian meninggi. Ia mengulum bibir, menatap Aksara sebentar dan berharap air matanya tidak jatuh sekarang juga. “Bu,” panggilnya dengan nada suara serendah mungkin. Saranita membuang tatapan, ia takut kalau seluruh kalimatnya kembali memendam dan pada akhirnya hanya ia yang tersakiti oleh perasaannya sendiri. “Kalau bisa kita bertukar tubuh satu hari aja, Saranita mau jadi Ibu, tapi apa Ibu mau jadi Saranita? Ibu, Sara tahu kalau Ibu baru pertama kali jadi orangtua. Tapi pernah enggak Ibu berpikir satu menit aja perihal Saranita yang juga baru pertama kali jadi seorang anak?”

Saranita hanya tidak mengerti kenapa Ibu begitu egois setelah kepergian Ayah? Ibu juga begitu gengsi ketika Saranita menyudutkannya dengan kalimat kalau Ibu hanya merindukan Ayah dan tidak mampu hidup tanpa Ayah di sisinya. Apa setiap orang yang memiliki rasa cinta bisa menjadi sememuakkan itu? Maksudnya, apakah perasaan cinta itu di atas segalanya ketimbang perasaan anaknya sendiri?

Saranita cukup tidak mengerti.

“Ibu kangen Ayah, kan, Bu?” tanya Saranita telak, membuat Ibu di seberang sana tidak menyelesaikan kalimatnya. Saranita menarik napas, air matanya jatuh tepat di depan Aksara yang hanya menatapnya dalam keheningan. “Iya, kan, Bu?!”

Di seberang sana Ibu diam, membiarkan keheningan mengambil celah di antara ruang yang ada. Bagi Ibu, Saranita tidak sepenuhnya salah. Terkadang memang Ibu begitu merindukan Ayah, tapi di saat memikirkan hal menyakitkan yang pernah dilakukan Ayah, perasaan rindu itu kembali tiba dengan rasa yang berbeda. Rasa yang sampai pada detik ini Ibu selalu terluka memikirkannya, Ibu selalu takut akan sebuah kepergian. Itu sebabnya Ibu begitu marah ketika tahu bahwa Ayah pergi ke rumah untuk membawa Fina dan Esa pergi.

Kamu begitu sayang dengan Ayahmu itu sampai membela sebegitu kerasnya, Sara?!” Ibu makin menaikkn nada bicaranya. Di ingatan Ibu terlintas momen dimana Ayah mengakui sebuah perselingkuhan-nya tiga tahun yang lalu. Tangannya yang bebas mengepal sampai buku jarinya memutih, emosi yang ada di dadanya tersalur semua ke sana.

“Sara lebih sayang sama Ibu.” Mencoba untuk tetap terlihat tenang di hadapan Aksara, perempuan berkaus putih itu menghela napasnya sesaat. “Bu, enggak bisa, ya, Ibu lihat Saranita sebagai anak Ibu juga? Apa segitu sulitnya untuk memperlakukan Saranita sama dengan Fina dan Esa yang selalu Ibu jaga perasaanya? Sara terluka, Bu.”

Napas Ibu tersenggal, kepalanya pening seperti habis dihantam oleh benda yang cukup besar. Pikirannya kemana-mana, berjalan tidak seirama dengan apa yang menjadi isi hatinya.

“Bu, Saranita akan bawa Fina dan Esa pulang. Ibu yang tenang di rumah, ya? Ayah enggak akan ambil hak asuh Fina dan Esa. Ibu mengandalkan Saranita, kan, Bu?” Menunduk, menatap ujung sepatu putihnya yang sudah berubah warna menjadi kekuningan. Sepatu pertama yang Ibu belikan setelah kepergian Ayah. Saranita ingat bagaimana seri di wajah Ibu ketika menyerahkan sepatu itu untuknya waktu itu. “Tolong percaya sama Saranita, ya, Bu?”

Jangan pulang kalau tidak ada Fina dan Esa!” kata Ibu memeperingatkan, sebelum akhirnya menutup panggilan sepihak yang membuat Saranita menggelengkan kepala.

Sebenarnya Saranita tidak bisa menjamin bahwa Ayah akan dengan mudah melepaskan Fina dan Esa begitu saja malam ini. Tapi dengan segala kalimat yang udah ia susun sedemikian rupa untuk meluluhkan hati Ayah, Saranita menjadi sedikit yakin.

Tiba-tiba Aksara menyodorkan buku catatannya ke hadapan Saranita, meminta perempuan itu untuk membaca dan mengatakan sesuatu setelahnya.

Saranita melebarkan senyumnya di hadapan Aksara, kuasanya terangkat untuk membantu pria itu memasang alat bantu dengarnya. Saranita kira, Aksara tidak akan tahu apa yang ia bicarakan bersama Ibu di telepon, tapi nyatanya Saranita salah, sebab Aksara bisa membaca gerak bibir.

“Ayah... baik. Tapi gue enggak pernah mau punya suami kayak Ayah.” Saranita mengambil tangan kanan Aksara, mengaitkan jari-jarinya dengan milik pria itu. Perlahan, perempuan itu melangkahkan kaki dengan mata yang menatap langit yang sama sekali tidak ada bintang hari ini.

Aksara menggerakkan tangannya yang bebas untuk bertanya, “Kenapa?

Awalnya Saranita hanya mengerinyitkan dahi, tapi pada akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud pergerakan itu. “Enggak ada alasan, gue cuma enggak mau punya suami kayak Ayah.”

Pria berkaus hitam itu menganggukkan kepalanya dua kali, matanya menatap lurus-lurus ke jalanan yang kosong. Jika ia perempuan, maka ia akan mengambil langkah seperti Saranita—bahwa ia tidak akan menikah dengan pria yang seperti Ayahnya. Tapi karena Aksara seorang pria, maka ia akan mengambil keputusan bahwa ia akan menikahi perempuan yang mirip dengan Bunda. Jika suatu saat bukan Saranita jawabannya, maka ia tidak akan melakukan hal itu.

“Lo enggak mau nanya gimana perasaan gue, Sa?”

Saat kalimat tanya itu dilontarkan, Aksara menghentikan langkahnya. Dia melepaskan genggaman tangan Saranita untuk menulis sesuatu di bukunya.

Saranita diam, hanya menggigit bibir bawahnya di kolong langit mendung Kota Jakarta. Dari kalimatnya, Saranita dapat menyimpulkan bahwa Aksara bukan tipikal manusia yang akan mencari tahu apapun permasalahannya, tapi ia adalah tipikal pria yang akan selalu ada untuk orang terkasih—apapun keadaanya.

Kali ini Saranita terkekeh saat membaca kalimat itu. Rasanya seperti sedang bercanda. “Kenapa harus ngeidolain anak durhaka kayak gue? Lo tahu kalau tadi gue bentak-bentak Ibu, kan? Enggak ada yang bisa dibanggain dari gue, Aksara.”

Aksara kembali menuliskan kalimatnya, tentu dengan senyum yang begitu menenangkan.

Melihat Saranita hanya diam setelah membaca kalimatnya, Aksara bergegas untuk membuka jacket levisnya, memakaikan pada perempuan bersurai legam di sebelahnya. Entah perasaan dari mana, tapi Aksara tidak pernah mau melihat Saranita tampak bersedih. Karena kalau perempuan itu bersedih, itu artinya mata Bunda sedang memancarkan sebuah kesedihan yang membuat hatinya begitu hancur.

Melihat Saranita bersedih sama saja seperti Aksara membiarkan Bunda menangis sendirian.

“Sa, makasih, ya.”

Pria itu mengangguk, kemudian menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membuat Saranita diam-diam merasa dunianya kembali berputar secara damai.

Perasaan nyata tentang derasnya emosi.

Saranita tidak banyak bicara setelah Aksara menemuinya di halte persimpangan dekat komplek salah satu perumahan mewah di Jakarta Selatan. Sedangkan Aksara hanya diam, kakinya mengikuti kemanapun Saranita melangkah. Ada dua kemungkinan kenapa sejak tadi Saranita hanya bungkam, menutup mulut agar suaranya tidak menguar di udara. Satu, karena ia memiliki banyak hal yang harus dipikirkan, dan kemungkinan kedua adalah karena perempuan itu tidak mau membuat Aksara repot untuk menulis sesuatu di atas kertas guna membalas kalimatnya. Kemungkinan kedua cukup membuat Aksara mengangkat kedua sudut bibirnya penuh. Namun kemungkinan pertama cukup membuat perasaanya gelisah tidak menentu.

Drrt

Saranita menghentikan langkah, membuat Aksara mau tidak mau ikut menghentikan pergerakan tuasnya. Saat perempuan itu menatap ponsel sambil menghela napas kasar, Aksara justru mengusap bahu Saranita untuk sekedar mengusir rasa berat di sana. Kepala Aksara mengangguk begitu saja saat tatapan Saranita jatuh pada matanya, seolah meminta izin untuk mengangkat telepon.

“Sa, maaf, ya? Tapi boleh lepas alat bantu dengar lo sebentar aja?”

Awalnya Aksara bingung, namun tidak lama ia melepaskan alat bantu dengarnya. Keheningan langsung menyapa, namun netranya tidak pernah lepas dari pergerakan bibir Saranita—sehingga pria itu tahu segalanya yang diucapkan oleh Saranita.

“Halo, Ibu...”

Rungu Saranita langsung disambut dengan kalimat yang membuat hatinya terasa kebal. Tidak ada lagi rasa sakit padahal Ibu memberinya sejuta sumpah serapah yang memuakkan. “Kenapa kamu hidup semaumu sendiri, Saranita? Kamu kenapa enggak pernah dengerin kata Ibu?

Jemari Saranita bergetar ketika mendengar intonasi Ibu yang kian meninggi. Ia mengulum bibir, menatap Aksara sebentar dan berharap air matanya tidak jatuh sekarang juga. “Bu,” panggilnya dengan nada suara serendah mungkin. Saranita membuang tatapan, ia takut kalau seluruh kalimatnya kembali memendam dan pada akhirnya hanya ia yang tersakiti oleh perasaannya sendiri. “Kalau bisa kita bertukar tubuh satu hari aja, Saranita mau jadi Ibu, tapi apa Ibu mau jadi Saranita? Ibu, Sara tahu kalau Ibu baru pertama kali jadi orangtua. Tapi pernah enggak Ibu berpikir satu menit aja perihal Saranita yang juga baru pertama kali jadi seorang anak?”

Saranita hanya tidak mengerti kenapa Ibu begitu egois setelah kepergian Ayah? Ibu juga begitu gengsi ketika Saranita menyudutkannya dengan kalimat kalau Ibu hanya merindukan Ayah dan tidak mampu hidup tanpa Ayah di sisinya. Apa setiap orang yang memiliki rasa cinta bisa menjadi sememuakkan itu? Maksudnya, apakah perasaan cinta itu di atas segalanya ketimbang perasaan anaknya sendiri?

Saranita cukup tidak mengerti.

“Ibu kangen Ayah, kan, Bu?” tanya Saranita telak, membuat Ibu di seberang sana tidak menyelesaikan kalimatnya. Saranita menarik napas, air matanya jatuh tepat di depan Aksara yang hanya menatapnya dalam keheningan. “Iya, kan, Bu?!”

Di seberang sana Ibu diam, membiarkan keheningan mengambil celah di antara ruang yang ada. Bagi Ibu, Saranita tidak sepenuhnya salah. Terkadang memang Ibu begitu merindukan Ayah, tapi di saat memikirkan hal menyakitkan yang pernah dilakukan Ayah, perasaan rindu itu kembali tiba dengan rasa yang berbeda. Rasa yang sampai pada detik ini Ibu selalu terluka memikirkannya, Ibu selalu takut akan sebuah kepergian. Itu sebabnya Ibu begitu marah ketika tahu bahwa Ayah pergi ke rumah untuk membawa Fina dan Esa pergi.

“Kamu begitu sayang dengan Ayahmu itu sampai membela sebegitu kerasnya, Sara?!” Ibu makin menaikkn nada bicaranya. Di ingatan Ibu terlintas momen dimana Ayah mengakui sebuah perselingkuhan-nya tiga tahun yang lalu. Tangannya yang bebas mengepal sampai buku jarinya memutih, emosi yang ada di dadanya tersalur semua ke sana.

“Sara lebih sayang sama Ibu.” Mencoba untuk tetap terlihat tenang di hadapan Aksara, perempuan berkaus putih itu menghela napasnya sesaat. “Bu, enggak bisa, ya, Ibu lihat Saranita sebagai anak Ibu juga? Apa segitu sulitnya untuk memperlakukan Saranita sama dengan Fina dan Esa yang selalu Ibu jaga perasaanya? Sara terluka, Bu.”

Napas Ibu tersenggal, kepalanya pening seperti habis dihantam oleh benda yang cukup besar. Pikirannya kemana-mana, berjalan tidak seirama dengan apa yang menjadi isi hatinya.

“Bu, Saranita akan bawa Fina dan Esa pulang. Ibu yang tenang di rumah, ya? Ayah enggak akan ambil hak asuh Fina dan Esa. Ibu mengandalkan Saranita, kan, Bu?” Menunduk, menatap ujung sepatu putihnya yang sudah berubah warna menjadi kekuningan. Sepatu pertama yang Ibu belikan setelah kepergian Ayah. Saranita ingat bagaimana seri di wajah Ibu ketika menyerahkan sepatu itu untuknya waktu itu. “Tolong percaya sama Saranita, ya, Bu?”

“Jangan pulang kalau tidak ada Fina dan Esa!” kata Ibu memeperingatkan, sebelum akhirnya menutup panggilan sepihak yang membuat Saranita menggelengkan kepala.

Sebenarnya Saranita tidak bisa menjamin bahwa Ayah akan dengan mudah melepaskan Fina dan Esa begitu saja malam ini. Tapi dengan segala kalimat yang udah ia susun sedemikian rupa untuk meluluhkan hati Ayah, Saranita menjadi sedikit yakin.

Tiba-tiba Aksara menyodorkan buku catatannya ke hadapan Saranita, meminta perempuan itu untuk membaca dan mengatakan sesuatu setelahnya.

Saranita melebarkan senyumnya di hadapan Aksara, kuasanya terangkat untuk membantu pria itu memasang alat bantu dengarnya. Saranita kira, Aksara tidak akan tahu apa yang ia bicarakan bersama Ibu di telepon, tapi nyatanya Saranita salah, sebab Aksara bisa membaca gerak bibir.

“Ayah... baik. Tapi gue enggak pernah mau punya suami kayak Ayah.” Saranita mengambil tangan kanan Aksara, mengaitkan jari-jarinya dengan milik pria itu. Perlahan, perempuan itu melangkahkan kaki dengan mata yang menatap langit yang sama sekali tidak ada bintang hari ini.

Aksara menggerakkan tangannya yang bebas untuk bertanya, “Kenapa?

Awalnya Saranita hanya mengerinyitkan dahi, tapi pada akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud pergerakan itu. “Enggak ada alasan, gue cuma enggak mau punya suami kayak Ayah.”

Pria berkaus hitam itu menganggukkan kepalanya dua kali, matanya menatap lurus-lurus ke jalanan yang kosong. Jika ia perempuan, maka ia akan mengambil langkah seperti Saranita—bahwa ia tidak akan menikah dengan pria yang seperti Ayahnya. Tapi karena Aksara seorang pria, maka ia akan mengambil keputusan bahwa ia akan menikahi perempuan yang mirip dengan Bunda. Jika suatu saat bukan Saranita jawabannya, maka ia tidak akan melakukan hal itu.

“Lo enggak mau nanya gimana perasaan gue, Sa?”

Saat kalimat tanya itu dilontarkan, Aksara menghentikan langkahnya. Dia melepaskan genggaman tangan Saranita untuk menulis sesuatu di bukunya.

Saranita diam, hanya menggigit bibir bawahnya di kolong langit mendung Kota Jakarta. Dari kalimatnya, Saranita dapat menyimpulkan bahwa Aksara bukan tipikal manusia yang akan mencari tahu apapun permasalahannya, tapi ia adalah tipikal pria yang akan selalu ada untuk orang terkasih—apapun keadaanya.

Kali ini Saranita terkekeh saat membaca kalimat itu. Rasanya seperti sedang bercanda. “Kenapa harus ngeidolain anak durhaka kayak gue? Lo tahu kalau tadi gue bentak-bentak Ibu, kan? Enggak ada yang bisa dibanggain dari gue, Aksara.”

Aksara kembali menuliskan kalimatnya, tentu dengan senyum yang begitu menenangkan.

Melihat Saranita hanya diam setelah membaca kalimatnya, Aksara bergegas untuk membuka jacket levisnya, memakaikan pada perempuan bersurai legam di sebelahnya. Entah perasaan dari mana, tapi Aksara tidak pernah mau melihat Saranita tampak bersedih. Karena kalau perempuan itu bersedih, itu artinya mata Bunda sedang memancarkan sebuah kesedihan yang membuat hatinya begitu hancur.

Melihat Saranita bersedih sama saja seperti Aksara membiarkan Bunda menangis sendirian.

“Sa, makasih, ya.”

Pria itu mengangguk, kemudian menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membuat Saranita diam-diam merasa dunianya kembali berputar secara damai.

Perasaan yang hanya tersangkut di tenggorokan.

Klise, tapi Aksara memang benar-benar bukan pria yang akan membawa Saranita untuk makan di dalam rumah makan mewah, ia justru tipikal pria dengan sejuta kejutan sederhana yang tidak pernah membuat Saranita lelah untuk berdecak kagum. Aksara istimewa, dan memang begitu adanya.

Seperti malam ini, malam dimana pertama kali Saranita menginjakkan kakinya di pasar malam. Senyumnya terangkat sempurna berkat Aksara juga kalimat indah yang selalu pria itu ungkap melalui tulisannya. Padahal, dua jam yang lalu Saranita baru saja beradu argumen dengan Ibu. Perihal ungkapan ketakutan perempuan itu pada dunia, pada manusia-manusia yang berada di dalamnya. Jika ada pertanyaan, “Apa yang kamu takutkan di dunia ini?

Maka dengan lantang Saranita akan menjawab, “Keluarga.

Ibu tidak pernah tahu seberapa besar keinginan anak perempuan pertamanya untuk menenggelamkan diri pada lautan lepas dan membiarkan daksa yang selalu dianggap tidak berguna itu dimakan oleh hewan buas.

Kejadian paling parah sejauh ini adalah siang tadi, Ibu lagi-lagi membentaknya hanya karena Saranita menyatakan sebuah ketakutannya selama ini. Saranita takut pada dunia, ia takut menjadi sosok dewasa dan dengan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Dan Ibu membenci hal itu, semua hal yang menjadi ketakutan Saranita selama ini.

Kamu sudah melakukan apa, Sara? Sebelum mengeluh seperti ini, apa kamu pernah membayangkan bagaimana lelahnya menjadi Ibu?” Begitu balasan Ibu ketika ia lagi-lagi mengutarakan semuanya.

Saranita tahu, jelas tahu bagaimana beratnya beban yang dipikul oleh Ibu seorang diri setelah kepergian Ayah. Tapi siang tadi Saranita benar-benar butuh rumah, tempatnya mengeluarkan isi hati dan berkeluh-kesah. Saranita tidak butuh sebuah perbandingan yang membuat dadanya terasa semakin berat. Sebab perempuan itu tahu, kalau ia adalah manusia yang baru saja tumbuh dan wajar jika memiliki ketakutan luar biasa.

Saranita hanya butuh tangan yang bersiap menyalurkan kekuatan seimbang lewat genggaman jemarinya.

Kuasa Aksara tiba-tiba saja terangkat untuk menyentuh pundak bagian kiri Saranita, pria itu tersenyum tulus namun netranya berjelajah masuk ke dalam milik Saranita, berusaha mencari sesuatu yang disembunyikan di baliknya.

“Kenapa, Sa?”

Aksara bergerak perlahan untuk mengambil buku catatan juga penanya di dalam saku. Dengan senyum yang tidak pernah lepas, ia mulai menggerakkan kuasanya untuk menuliskan sesuatu di sana.

Helaan napas terdengar begitu saja, sesaat setelah Saranita membaca tulisan di atas buku catatan hijau milik Aksara. Dia mengangguk, kemudian sedikit tersentak kala jemari milik Aksara bertaut begitu saja tanpa dipinta. Rasanya begitu hangat ketika jemari kekar itu mengisi ruang kosong di antara miliknya, nyaman seolah tidak mau dilepaskan. Aksara membawa Saranita untuk duduk di kursi panjang, menatap keramaian pasar malam dari tempat mereka.

Saranita tidak berbohong ketika ia bilang kalau duduk di samping Aksara adalah hal yang paling menenangkan. Rasanya seperti dipeluk oleh Ibu ketika umurnya belum genap sepuluh tahun. Pelukan yang begitu ia rindukan selama delapan tahun belakangan ini.

“Maaf kalau gue malah bikin kacau malam ini, ya, Sa.” Saranita menoleh, menatap wajah Aksara dari sisi pria itu. “Gue tiba-tiba keinget ucapan Ibu siang tadi.”

Kini Aksara ikut menoleh, menipiskan bibir seraya menatap Saranita. Lewat tatapan itu, Aksara seolah berkata bahwa tidak ada hal yang perlu dimaafkan karena semua terjadi begitu saja.

Saranita terkekeh kecil saat ia tahu maksud dari tatapan Aksara yang kini berubah menjadi sebuah tatap kekhawatiran. “Gue cerita, boleh?”

Aksara mengangguk antusias, sedangkan Saranita membuang napas begitu saja—bersiap untuk cerita. Saat ini, hal yang paling ia sukai di dunia adalah bercerita pada Aksara, padahal sebelumnya Saranita bukan tipikal perempuan yang akan membagi beban di pundaknya begitu saja kepada orang lain. Tapi kepada pria yang baru satu minggu lalu ia kenal di samping sekolah, rasanya begitu nyaman. Aksara bukan asing lagi, ia sudah melebur menjadi seperti darah di setiap nadi Saranita.

“Setelah kepergian Ayah, mental Ibu enggak stabil.” Saranita menggantungkan kalimatnya, ada rasa sesak yang menjalar di setiap embusan napas ketika ia membahas perihal Ibu. Selalu saja begitu, sejak tiga tahun lalu Saranita memang tidak pernah baik-baik saja jika mengingat hal ini. “Gue udah ajak Ibu ke Dokter satu kali, tapi Ibu tetap enggak mau terapi lagi. Ibu kadang baik, baik banget. Tapi Ibu juga bisa jadi manusia yang paling menakutkan buat gue, Fina sama Esa. Ibu suka marah tanpa sebab, Ibu enggak pernah mau dunianya dihampiri orang lain. Kadang Ibu pergi, lupa kalau dia punya anak yang nunggu dan kelaparan di rumah.”

Saranita menunduk, membiarkan dirinya tenggelam pada pikiran sendirian. Sedangkan kini kuasa Aksara terangkat untuk membawa kepala gadis itu bersandar pada dadanya yang bidang—sampai-sampai Saranita bisa mendengar detak jantung yang tidak begitu stabil.

“Gue enggak pernah bisa ngitung seberapa sayang gue sama Ibu, Sa. Gue selalu mengusahakan versi terbaik dalam diri gue untuk Ibu, untuk Fina sama untuk Esa.” Saranita mengusahakan agar suaranya tetap netral, membuat napasnya sedikit tersenggal. Perlahan, kedua tangannya melingkar di pinggang Aksara, untuk pertama kalinya ia membalas pelukan nyaman pria itu—karena biasanya hanya Aksara yang memeluknya erat tanpa mengharapkan sebuah balasan. “Gue enggak pernah bisa marah sama Ibu. Kalau gue kesel, gue selalu pendam rasa marah gue. Makannya hari itu gue bilang sama lo kalau perasaan marah itu kayak sampah, kan? Karena,”

Kuasa kiri Aksara bergerak untuk mengelus punggung Saranita, menyalurkan sebuah rasa hangat lewat sana. Sebab Aksara tahu, bercerita pada orang asing bukanlah hal yang mudah. Terlebih mereka baru kenal satu minggu yang lalu.

“Karena gue enggak mau lo kayak gue, Aksara. Gue enggak pernah bisa marah di depan Ibu, gue enggak pernah bisa nangis di depan Ibu. Gue enggak pernah bisa ngerasain hal-hal emosional selama ini karena awalnya gue cuma bisa mendem perasaan itu buat diri gue sendiri, sampe akhirnya gue lupa gimana cara ungkapnya. Gue enggak pernah peduli sama orang lain, tapi saat lihat lo sore itu pulang sekolah, semuanya berubah. Ada rasa yang enggak pernah bisa gue jelasin sampe saat ini, semuanya kayak nyangkut di tenggorokan.” Saranita menengadah, menatap Aksara dari posisinya. Pria itu benar-benar tampan, memang seperti malaikat yang secara tiba-tiba dikirim Tuhan untuknya.

Kuasa Aksara bergerak untuk menulis sesuatu di atas buku catatan, namun tetap tidak melepaskan Saranita dari pelukannya. Senyumnya masih sama, terukir dengan indah seolah ia adalah lukisan yang paling elok di dunia.

Perempuan berkemeja hitam itu mengangkat kedua sudut bibirnya, pelan-pelan ia tersenyum secara ikhlas seperti apa yang selalu dilakukan oleh Aksara. “Makasih juga udah bikin gue selalu percaya sama kemampuan diri sendiri dari hari ke hari, Sa.”

Sebenarnya bagi Saranita, mengenal Aksara bukan hanya sebuah keberuntungan. Tapi lewat pria itu Saranita menyadari banyak hal termasuk rasa bersyukur.

Aksara lagi-lagi menyodorkan buku catatannya saat Saranita mencoba bangun dari posisinya, sedikit menjauhkan daksa satu sama lain.

Saranita menatap Aksara bingung, “Apa?” Dengan sabar ia menunggu Aksara yang sedang menuliskan kalimatnya di atas buku.

Saranita bergeming, ia menatap Aksara dengan perasaan aneh yang menyeruak di dalam dada. Malam ini Aksara memakai kacamata berbingkai tipis, kaus putih lusuh yang dibalut dengan jaket berwarna hitam. Surai legam yang sudah agak memanjang dibiarkan jatuh dengan indah di atas keningnya.

“Lo ganteng banget malem ini.”

Bukan hanya Aksara, tapi Saranita juga terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan secara gamblang. Jantungnya berdetak lebih cepat, sama halnya dengan Aksara yang kini justru tersenyum begitu manis.

“E-enggak, maksud gue, iya. Maksudnya, iya—semua orang pasti terluka saat pendewasaan diri. Lo bener, iya, lo bener.” Untuk pertama kalinya Saranita merasa gugup di hadapan Aksara, perempuan bersurai sebahu itu bahkan menggigit bibir bawahnya tanpa ampun saat ini.

Sialan!

Kenapa Aksara harus selalu membuat Saranita salah tingkah seperti ini, sih?

Perasaan yang hanya tersangkut di tenggorokan.

Klise, tapi Aksara memang benar-benar bukan pria yang akan membawa Saranita untuk makan di dalam rumah makan mewah, ia justru tipikal pria dengan sejuta kejutan sederhana yang tidak pernah membuat Saranita lelah untuk berdecak kagum. Aksara istimewa, dan memang begitu adanya.

Seperti malam ini, malam dimana pertama kali Saranita menginjakkan kakinya di pasar malam. Senyumnya terangkat sempurna berkat Aksara juga kalimat indah yang selalu pria itu ungkap melalui tulisannya. Padahal, dua jam yang lalu Saranita baru saja beradu argumen dengan Ibu. Perihal ungkapan ketakutan perempuan itu pada dunia, pada manusia-manusia yang berada di dalamnya. Jika ada pertanyaan, “Apa yang kamu takutkan di dunia ini?

Maka dengan lantang Saranita akan menjawab, “Keluarga.

Ibu tidak pernah tahu seberapa besar keinginan anak perempuan pertamanya untuk menenggelamkan diri pada lautan lepas dan membiarkan daksa yang selalu dianggap tidak berguna itu dimakan oleh hewan buas.

Kejadian paling parah sejauh ini adalah siang tadi, Ibu lagi-lagi membentaknya hanya karena Saranita menyatakan sebuah ketakutannya selama ini. Saranita takut pada dunia, ia takut menjadi sosok dewasa dan dengan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Dan Ibu membenci hal itu, semua hal yang menjadi ketakutan Saranita selama ini.

Kamu sudah melakukan apa, Sara? Sebelum mengeluh seperti ini, apa kamu pernah membayangkan bagaimana lelahnya menjadi Ibu?” Begitu balasan Ibu ketika ia lagi-lagi mengutarakan semuanya.

Saranita tahu, jelas tahu bagaimana beratnya beban yang dipikul oleh Ibu seorang diri setelah kepergian Ayah. Tapi siang tadi Saranita benar-benar butuh rumah, tempatnya mengeluarkan isi hati dan berkeluh-kesah. Saranita tidak butuh sebuah perbandingan yang membuat dadanya terasa semakin berat. Sebab perempuan itu tahu, kalau ia adalah manusia yang baru saja tumbuh dan wajar jika memiliki ketakutan luar biasa.

Saranita hanya butuh tangan yang bersiap menyalurkan kekuatan seimbang lewat genggaman jemarinya.

Kuasa Aksara tiba-tiba saja terangkat untuk menyentuh pundak bagian kiri Saranita, pria itu tersenyum tulus namun netranya berjelajah masuk ke dalam milik Saranita, berusaha mencari sesuatu yang disembunyikan di baliknya.

“Kenapa, Sa?”

Aksara bergerak perlahan untuk mengambil buku catatan juga penanya di dalam saku. Dengan senyum yang tidak pernah lepas, ia mulai menggerakkan kuasanya untuk menuliskan sesuatu di sana.

Helaan napas terdengar begitu saja, sesaat setelah Saranita membaca tulisan di atas buku catatan hijau milik Aksara. Dia mengangguk, kemudian sedikit tersentak kala jemari milik Aksara bertaut begitu saja tanpa dipinta. Rasanya begitu hangat ketika jemari kekar itu mengisi ruang kosong di antara miliknya, nyaman seolah tidak mau dilepaskan. Aksara membawa Saranita untuk duduk di kursi panjang, menatap keramaian pasar malam dari tempat mereka.

Saranita tidak berbohong ketika ia bilang kalau duduk di samping Aksara adalah hal yang paling menenangkan. Rasanya seperti dipeluk oleh Ibu ketika umurnya belum genap sepuluh tahun. Pelukan yang begitu ia rindukan selama delapan tahun belakangan ini.

“Maaf kalau gue malah bikin kacau malam ini, ya, Sa.” Saranita menoleh, menatap wajah Aksara dari sisi pria itu. “Gue tiba-tiba keinget ucapan Ibu siang tadi.”

Kini Aksara ikut menoleh, menipiskan bibir seraya menatap Saranita. Lewat tatapan itu, Aksara seolah berkata bahwa tidak ada hal yang perlu dimaafkan karena semua terjadi begitu saja.

Saranita terkekeh kecil saat ia tahu maksud dari tatapan Aksara yang kini berubah menjadi sebuah tatap kekhawatiran. “Gue cerita, boleh?”

Aksara mengangguk antusias, sedangkan Saranita membuang napas begitu saja—bersiap untuk cerita. Saat ini, hal yang paling ia sukai di dunia adalah bercerita pada Aksara, padahal sebelumnya Saranita bukan tipikal perempuan yang akan membagi beban di pundaknya begitu saja kepada orang lain. Tapi kepada pria yang baru satu minggu lalu ia kenal di samping sekolah, rasanya begitu nyaman. Aksara bukan asing lagi, ia sudah melebur menjadi seperti darah di setiap nadi Saranita.

“Setelah kepergian Ayah, mental Ibu enggak stabil.” Saranita menggantungkan kalimatnya, ada rasa sesak yang menjalar di setiap embusan napas ketika ia membahas perihal Ibu. Selalu saja begitu, sejak tiga tahun lalu Saranita memang tidak pernah baik-baik saja jika mengingat hal ini. “Gue udah ajak Ibu ke Dokter satu kali, tapi Ibu tetap enggak mau terapi lagi. Ibu kadang baik, baik banget. Tapi Ibu juga bisa jadi manusia yang paling menakutkan buat gue, Fina sama Esa. Ibu suka marah tanpa sebab, Ibu enggak pernah mau dunianya dihampiri orang lain. Kadang Ibu pergi, lupa kalau dia punya anak yang nunggu dan kelaparan di rumah.”

Saranita menunduk, membiarkan dirinya tenggelam pada pikiran sendirian. Sedangkan kini kuasa Aksara terangkat untuk membawa kepala gadis itu bersandar pada dadanya yang bidang—sampai-sampai Saranita bisa mendengar detak jantung yang tidak begitu stabil.

“Gue enggak pernah bisa ngitung seberapa sayang gue sama Ibu, Sa. Gue selalu mengusahakan versi terbaik dalam diri gue untuk Ibu, untuk Fina sama untuk Esa.” Saranita mengusahakan agar suaranya tetap netral, membuat napasnya sedikit tersenggal. Perlahan, kedua tangannya melingkar di pinggang Aksara, untuk pertama kalinya ia membalas pelukan nyaman pria itu—karena biasanya hanya Aksara yang memeluknya erat tanpa mengharapkan sebuah balasan. “Gue enggak pernah bisa marah sama Ibu. Kalau gue kesel, gue selalu pendam rasa marah gue. Makannya hari itu gue bilang sama lo kalau perasaan marah itu kayak sampah, kan? Karena,”

Kuasa kiri Aksara bergerak untuk mengelus punggung Saranita, menyalurkan sebuah rasa hangat lewat sana. Sebab Aksara tahu, bercerita pada orang asing bukanlah hal yang mudah. Terlebih mereka baru kenal satu minggu yang lalu.

“Karena gue enggak mau lo kayak gue, Aksara. Gue enggak pernah bisa marah di depan Ibu, gue enggak pernah bisa nangis di depan Ibu. Gue enggak pernah bisa ngerasain hal-hal emosional selama ini karena awalnya gue cuma bisa mendem perasaan itu buat diri gue sendiri, sampe akhirnya gue lupa gimana cara ungkapnya. Gue enggak pernah peduli sama orang lain, tapi saat lihat lo sore itu pulang sekolah, semuanya berubah. Ada rasa yang enggak pernah bisa gue jelasin sampe saat ini, semuanya kayak nyangkut di tenggorokan.” Saranita menengadah, menatap Aksara dari posisinya. Pria itu benar-benar tampan, memang seperti malaikat yang secara tiba-tiba dikirim Tuhan untuknya.

Kuasa Aksara bergerak untuk menulis sesuatu di atas buku catatan, namun tetap tidak melepaskan Saranita dari pelukannya. Senyumnya masih sama, terukir dengan indah seolah ia adalah lukisan yang paling elok di dunia.

Perempuan berkemeja hitam itu mengangkat kedua sudut bibirnya, pelan-pelan ia tersenyum secara ikhlas seperti apa yang selalu dilakukan oleh Aksara. “Makasih juga udah bikin gue selalu percaya sama kemampuan diri sendiri dari hari ke hari, Sa.”

Sebenarnya bagi Saranita, mengenal Aksara bukan hanya sebuah keberuntungan. Tapi lewat pria itu Saranita menyadari banyak hal termasuk rasa bersyukur.

Aksara lagi-lagi menyodorkan buku catatannya saat Saranita mencoba bangun dari posisinya, sedikit menjauhkan daksa satu sama lain.

Saranita menatap Aksara bingung, “Apa?” Dengan sabar ia menunggu sebuah Aksara yang sedang menuliskan kalimatnya di atas buku.

Saranita bergeming, ia menatap Aksara dengan perasaan aneh yang menyeruak di dalam dada. Malam ini Aksara memakai kacamata berbingkai tipis, kaus putih lusuh yang dibalut dengan jaket berwarna hitam. Surai legam yang sudah agak memanjang dibiarkan jatuh dengan indah di atas keningnya.

“Lo ganteng banget malem ini.”

Bukan hanya Aksara, tapi Saranita juga terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan secara gamblang. Jantungnya berdetak lebih cepat, sama halnya dengan Aksara yang kini justru tersenyum begitu manis.

“E-enggak, maksud gue, iya. Maksudnya, iya—semua orang pasti terluka saat pendewasaan diri. Lo bener, iya, lo bener.” Untuk pertama kalinya Saranita merasa gugup di hadapan Aksara, perempuan bersurai sebahu itu bahkan menggigit bibir bawahnya tanpa ampun saat ini.

Sialan!

Kenapa Aksara harus selalu membuat Saranita salah tingkah seperti ini, sih?

Satu dalam 365 hari.

Breakfast-shared-by-yweiss-on-We-Heart-It

Setelah ditinggal Bunda selama satu tahun, ada hal yang sama sekali tidak pernah bisa diterima oleh Aksara. Bukan hal tentang bagaimana ia harus menyikapi dunia ini sendirian, tapi perihal tatapan Ayah yang selalu membuatnya merasa ingin pergi dari tempatnya berpijak. Aksara tidak terima, sebab rasanya begitu aneh ketika tatapan yang dulunya begitu hangat kini berubah bagai batu es yang dipahat di depan matanya.

Seperti malam ini, Ayah tiba-tiba saja datang dan duduk bersama Aksara di meja makan. Menyantap makanan yang baru saja dibeli oleh Aksara pakai uang dari Bagas. Hal yang pertama kali Aksara dapati ketika ia menatap Ayah adalah tatapan menusuk penuh kebencian. Namun Aksara tahu, bahwa dibalik tatapan keras itu penuh sekali pernyataan-pernyataan penuh luka yang sama sekali tidak mau ditunjukkan pada dunia. Aksara tahu, Ayah tidak selemah itu, Ayah hanya manusia yang diciptakan dengan tingkat ke-egoisan yang lebih tinggi.

“Hari ini, tepat satu tahun kepergian Bunda.” Suara Ayah mengisi kekosongan di antara keduanya. Beruntung malam ini Aksara menggunakan alat bantu dengarnya, jadi walaupun ia tidak merespon, setidaknya ia tahu apa yang diucapkan oleh Ayah. “Bagas dan kamu sudah bisa beraktifitas sebagaimana manusia lain-nya, kalian baik-baik saja setelah kepergian Bunda. Sedangkan Ayah masih sibuk dalam sebuah halusinasi yang menyatakan bahwa Bunda masih di sini.”

Aksara hanya diam, pria itu memperlambat pergerakan seiring dengan napasnya yang kian tersenggal. Ingin sekali rasanya berteriak di hadapan Ayah bahwa ia dan Bagas tidak pernah merasa lebih baik setelah kepergian Bunda. Masing-masing dari mereka hanya menyimpan sebuah rasa menyakitkan dan menyembunyikannya satu sama lain. Mereka hanya berusaha untuk terlihat lebih baik, padahal di sisi lain rasanya ia ingin protes pada Tuhan karena—karena, kenapa harus Bunda?

Ayah terkekeh kecil, menatap anak terakhirnya itu singkat. “Lihat, kamu bahkan tidak mendengar apapun yang saya katakan.”

Aksara menjatuhkan sendoknya pelan, wajahnya terangkat untuk tenggelam ke dalam mata Ayah. Setelah itu, ada rasa sesak yang ia sendiri tidak tahu apa artinya. Tapi Aksara sadar, Bunda adalah satu-satunya perempuan yang berhasil menarik Ayah keluar dari lingkar menyedihkan dalam hidupnya di masa lalu. Selama ini Aksara selalu memaklumi Ayah, perihal kalimat Ayah yang sejujurnya menyayat bagian dalam hatinya.

Tangan Aksara bergerak, bicara menggunakan bahasa isyarat kepada Ayah. “Ayah, Aksara dan Mas Bagas enggak pernah merasa baik-baik saja setelah kepergian Bunda. Kami justru sedang berusaha baik-baik saja, berusaha sebisa mungkin menerima takdir yang memang diberikan oleh Tuhan.

Di menit yang sama, Ayah marah. Pria berumur hampir senja itu membanting piring berisi nasi berlauk Ayam yang dibeli oleh Aksara, isinya berhamburan kemana-mana yang membuat jantung Aksara bekerja lebih cepat. Kuasa Ayah terangkat, hendak memukul anaknya itu tepat pada bagian pipi. Mata Ayah memerah menunjukkan bahwa amarah sedang menguasai dirinya.

Sedang Aksara ikut berdiri, menatap Ayah dan sebisa mungkin menahan pergerakannya. Ia kembali berbicara menggunakan bahasa isyarat, “Ayah tahu kenapa Aksara sama Mas Bagas terlihat baik-baik aja?

Di tempatnya Ayah hanya diam.

Karena Ayah enggak pernah bertanya perihal perasaan Aksara dan Mas Bagas secara langsung. Ayah cuma lihat dari apa yang terjadi, bukan apa yang terasa.” Pada akhirnya, air mata yang sedari tadi disimpan oleh anak itu tumpah juga setelah ia mengungkapkan apa yang menjadi perasaannya. Kemudian Aksara berjongkok, hendak mengumpulkan beling dari piring yang dibanting oleh Ayah. Dengan getaran yang masih terasa, juga sesak yang menyeruak di dalam dada, Aksara kembali menggerakkan tangannya. “Aksara juga sudah mati setelah kepergian Bunda, Yah. Tubuh Aksara di sini, tapi jiwa Aksara sudah dibawa pergi sama Bunda. Ayah tahu siapa yang paling dekat dengan Bunda selain Ayah, kan? Itu Aksara.

Tawa sarkas keluar dari bibir Ayah, matanya menatap Aksara penuh dengan rasa benci, sebab Ayah tahu kalau Aksara benci dikasihani. Lagi-lagi kuasa Ayah terangkat, satu kali memukul Aksara tepat pada kepala pria itu. Kemudian ia berjalan ke luar rumah, membuka pintu dan disambut oleh perempuan dengan seragam serupa milik Aksara.

“Aksara, temanmu datang.” kata Ayah, sebelum akhirnya meninggalkan Saranita yang kebingungan di depan pintu rumahnya.

Saranita tergelak ketika ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya. Tatapan perempuan itu teralih pada Aksara yang sedang tersenyum manis, namun Saranita tidak begitu bodoh untuk menyadari ada jejak bekas air mata di pipi pria itu.

Eh?” Saranita terkekeh, tidak berhenti menatap Aksara yang sedang tersenyum begitu manis. “Lo enggak apa-apa?”

Pria itu mengangguk yakin, tidak ada keraguan atas pergerakannya, tapi Saranita tahu lewat tatapan mata Aksara mengisyartkan sebuah rasa sakit di dalam dadanya. Setelahnya, Aksara mempersilahkan Saranita untuk masuk dan duduk di ruang tamu sedangkan pria itu menyiapkan air mineral untuk dihidangkan.

Setelah menuliskan kalimatnya, Aksara menyodorkan buku catatan itu.

IMG-20210614-214646

Saranita mengambil gelas yang disiapkan oleh Aksara, menyeruput air mineral itu untuk menenangkan dirinya sesaat. Pikirannya kalut, tentang pesan dari Ayah juga tentang kejadian yang baru saja ia alami.

Tadi, saat mencari pekerjaan di sebuah kafe, ada satu pekerja yang justru melecehkannya. Saranita memang jago bertarung, tapi ia berani bersumpah ketika tangan pria tadi masuk ke dalam roknya, seluruh pergerakan seperti terkunci. Rasa takut itu hadir lagi sesaat setelah ia mengingat apa yang barusan terjadi.

Jemari Aksara terangkat untuk menyentuh bahu Saranita, namun gadis itu justru menjauh karena begitu terkejut. Lantas, Aksara menuliskan kalimatnya di atas buku.

IMG-20210614-214703

Saranita diam sesaat, matanya menatap Aksara begitu takut. Perempuan itu menggeser duduknya, sedikit menjauhkan diri dari Aksara. Sedangkan Aksara masih berusaha untuk menyentuh tangan Saranita, setidaknya untuk menyalurkan ketenangan yang ia punya.

“Gue ... gue enggak apa-apa, Sa. Gue enggak apa-apa.”

Kendati begitu, Aksara tahu bahwa Saranita tidak baik-baik saja. Aksara tahu kalau Saranita sedang berusaha melewati satu hari yang buruk. Sebab rasanya tidak mungkin perempuan itu datang ke rumahnya tanpa sebab. Aksara langsung berjongkok di hadapan Saranita, menggenggam jemari mungil itu untuk ditenangkan.

Saya tahu kalau kamu enggak bisa mengerti apa yang saya rasa, Sara. Tapi saya mau, kamu baik-baik saja setelah ini.” Dalam hati Aksara berharap bahwa setelah ini tidak ada lagi hal-hal rumit yang datang pada perempuan di hadapannya ini.

“Gue takut, Aksa ...”

Aksara menatap netra kecokelatan di hadapannya, mencari sesuatu yang ia harap dapat ditemukan di dalam sana. Namun nihil, perempuan itu menyembunyikannya dengan rapat, dan Aksara tidak mungkin memaksanya untuk bercerita.

“Hari ini,” Saranita menghela napas, menunduk untuk meredam seluruh suaranya. “Gue harap, gue lupa sama hari ini.”

Kuasa Aksara terangkat, membawa daksa perempuan itu masuk ke dalam pelukannya, memberikan hal yang ia punya dan tentu Saranita butuhkan—sebuah kehangatan dalam peluk menenangkan. Aksara berusaha mengambil buku, menuliskan sesuatu untuk dibaca oleh Saranita.

IMG-20210614-214716

Setelah membaca tulisan itu, senyum Saranita secara otomatis terangkat dengan sempurna. Ia semakin sadar bahwa Aksara adalah pilihan yang tepat untuk dijadikan sebuah rumah kepulangan.

on-Twitter

Satu dalam 365 hari.

Breakfast-shared-by-yweiss-on-We-Heart-It

Setelah ditinggal Bunda selama satu tahun, ada hal yang sama sekali tidak pernah bisa diterima oleh Aksara. Bukan hal tentang bagaimana ia harus menyikapi dunia ini sendirian, tapi perihal tatapan Ayah yang selalu membuatnya merasa ingin pergi dari tempatnya berpijak. Aksara tidak terima, sebab rasanya begitu aneh ketika tatapan yang dulunya begitu hangat kini berubah bagai batu es yang dipahat di depan matanya.

Seperti malam ini, Ayah tiba-tiba saja datang dan duduk bersama Aksara di meja makan. Menyantap makanan yang baru saja dibeli oleh Aksara pakai uang dari Bagas. Hal yang pertama kali Aksara dapati ketika ia menatap Ayah adalah tatapan menusuk penuh kebencian. Namun Aksara tahu, bahwa dibalik tatapan keras itu penuh sekali pernyataan-pernyataan penuh luka yang sama sekali tidak mau ditunjukkan pada dunia. Aksara tahu, Ayah tidak selemah itu, Ayah hanya manusia yang diciptakan dengan tingkat ke-egoisan yang lebih tinggi.

“Hari ini, tepat satu tahun kepergian Bunda.” Suara Ayah mengisi kekosongan di antara keduanya. Beruntung malam ini Aksara menggunakan alat bantu dengarnya, jadi walaupun ia tidak merespon, setidaknya ia tahu apa yang diucapkan oleh Ayah. “Bagas dan kamu sudah bisa beraktifitas sebagaimana manusia lain-nya, kalian baik-baik saja setelah kepergian Bunda. Sedangkan Ayah masih sibuk dalam sebuah halusinasi yang menyatakan bahwa Bunda masih di sini.”

Aksara hanya diam, pria itu memperlambat pergerakan seiring dengan napasnya yang kian tersenggal. Ingin sekali rasanya berteriak di hadapan Ayah bahwa ia dan Bagas tidak pernah merasa lebih baik setelah kepergian Bunda. Masing-masing dari mereka hanya menyimpan sebuah rasa menyakitkan dan menyembunyikannya satu sama lain. Mereka hanya berusaha untuk terlihat lebih baik, padahal di sisi lain rasanya ia ingin protes pada Tuhan karena—karena, kenapa harus Bunda?

Ayah terkekeh kecil, menatap anak terakhirnya itu singkat. “Lihat, kamu bahkan tidak mendengar apapun yang saya katakan.”

Aksara menjatuhkan sendoknya pelan, wajahnya terangkat untuk tenggelam ke dalam mata Ayah. Setelah itu, ada rasa sesak yang ia sendiri tidak tahu apa artinya. Tapi Aksara sadar, Bunda adalah satu-satunya perempuan yang berhasil menarik Ayah keluar dari lingkar menyedihkan dalam hidupnya di masa lalu. Selama ini Aksara selalu memaklumi Ayah, perihal kalimat Ayah yang sejujurnya menyayat bagian dalam hatinya.

Tangan Aksara bergerak, bicara menggunakan bahasa isyarat kepada Ayah. “*Ayah, Aksara dan Mas Bagas enggak pernah merasa baik-baik saja setelah kepergian Bunda. Kami justru sedang berusaha baik-baik saja, berusaha sebisa mungkin menerima takdir yang memang diberikan oleh Tuhan.”

Di menit yang sama, Ayah marah. Pria berumur hampir senja itu membanting piring berisi nasi berlauk Ayam yang dibeli oleh Aksara, isinya berhamburan kemana-mana yang membuat jantung Aksara bekerja lebih cepat. Kuasa Ayah terangkat, hendak memukul anaknya itu tepat pada bagian pipi. Mata Ayah memerah menunjukkan bahwa amarah sedang menguasai dirinya.

Sedang Aksara ikut berdiri, menatap Ayah dan sebisa mungkin menahan pergerakannya. Ia kembali berbicara menggunakan bahasa isyarat, “Ayah tahu kenapa Aksara sama Mas Bagas terlihat baik-baik aja?

Di tempatnya Ayah hanya diam.

Karena Ayah enggak pernah bertanya perihal perasaan Aksara dan Mas Bagas secara langsung. Ayah cuma lihat dari apa yang terjadi, bukan apa yang terasa.” Pada akhirnya, air mata yang sedari tadi disimpan oleh anak itu tumpah juga setelah ia mengungkapkan apa yang menjadi perasaannya. Kemudian Aksara berjongkok, hendak mengumpulkan beling dari piring yang dibanting oleh Ayah. Dengan getaran yang masih terasa, juga sesak yang menyeruak di dalam dada, Aksara kembali menggerakkan tangannya. “Aksara juga sudah mati setelah kepergian Bunda, Yah. Tubuh Aksara di sini, tapi jiwa Aksara sudah dibawa pergi sama Bunda. Ayah tahu siapa yang paling dekat dengan Bunda selain Ayah, kan? Itu Aksara.

Tawa sarkas keluar dari bibir Ayah, matanya menatap Aksara penuh dengan rasa benci, sebab Ayah tahu kalau Aksara benci dikasihani. Lagi-lagi kuasa Ayah terangkat, satu kali memukul Aksara tepat pada kepala pria itu. Kemudian ia berjalan ke luar rumah, membuka pintu dan disambut oleh perempuan dengan seragam serupa milik Aksara.

“Aksara, temanmu datang.” kata Ayah, sebelum akhirnya meninggalkan Saranita yang kebingungan di depan pintu rumahnya.

Saranita tergelak ketika ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya. Tatapan perempuan itu teralih pada Aksara yang sedang tersenyum manis, namun Saranita tidak begitu bodoh untuk menyadari ada jejak bekas air mata di pipi pria itu.

Eh?” Saranita terkekeh, tidak berhenti menatap Aksara yang sedang tersenyum begitu manis. “Lo enggak apa-apa?”

Pria itu mengangguk yakin, tidak ada keraguan atas pergerakannya, tapi Saranita tahu lewat tatapan mata Aksara mengisyartkan sebuah rasa sakit di dalam dadanya. Setelahnya, Aksara mempersilahkan Saranita untuk masuk dan duduk di ruang tamu sedangkan pria itu menyiapkan air mineral untuk dihidangkan.

Setelah menuliskan kalimatnya, Aksara menyodorkan buku catatan itu.

IMG-20210614-214646

Saranita mengambil gelas yang disiapkan oleh Aksara, menyeruput air mineral itu untuk menenangkan dirinya sesaat. Pikirannya kalut, tentang pesan dari Ayah juga tentang kejadian yang baru saja ia alami.

Tadi, saat mencari pekerjaan di sebuah kafe, ada satu pekerja yang justru melecehkannya. Saranita memang jago bertarung, tapi ia berani bersumpah ketika tangan pria tadi masuk ke dalam roknya, seluruh pergerakan seperti terkunci. Rasa takut itu hadir lagi sesaat setelah ia mengingat apa yang barusan terjadi.

Jemari Aksara terangkat untuk menyentuh bahu Saranita, namun gadis itu justru menjauh karena begitu terkejut. Lantas, Aksara menuliskan kalimatnya di atas buku.

IMG-20210614-214703

Saranita diam sesaat, matanya menatap Aksara begitu takut. Perempuan itu menggeser duduknya, sedikit menjauhkan diri dari Aksara. Sedangkan Aksara masih berusaha untuk menyentuh tangan Saranita, setidaknya untuk menyalurkan ketenangan yang ia punya.

“Gue ... gue enggak apa-apa, Sa. Gue enggak apa-apa.”

Kendati begitu, Aksara tahu bahwa Saranita tidak baik-baik saja. Aksara tahu kalau Saranita sedang berusaha melewati satu hari yang buruk. Sebab rasanya tidak mungkin perempuan itu datang ke rumahnya tanpa sebab. Aksara langsung berjongkok di hadapan Saranita, menggenggam jemari mungil itu untuk ditenangkan.

Saya tahu kalau kamu enggak bisa mengerti apa yang saya rasa, Sara. Tapi saya mau, kamu baik-baik saja setelah ini.” Dalam hati Aksara berharap bahwa setelah ini tidak ada lagi hal-hal rumit yang datang pada perempuan di hadapannya ini.

“Gue takut, Aksa ...”

Aksara menatap netra kecokelatan di hadapannya, mencari sesuatu yang ia harap dapat ditemukan di dalam sana. Namun nihil, perempuan itu menyembunyikannya dengan rapat, dan Aksara tidak mungkin memaksanya untuk bercerita.

“Hari ini,” Saranita menghela napas, menunduk untuk meredam seluruh suaranya. “Gue harap, gue lupa sama hari ini.”

Kuasa Aksara terangkat, membawa daksa perempuan itu masuk ke dalam pelukannya, memberikan hal yang ia punya dan tentu Saranita butuhkan—sebuah kehangatan dalam peluk menenangkan. Aksara berusaha mengambil buku, menuliskan sesuatu untuk dibaca oleh Saranita.