TetehnyaaJisung

hari itu.

“kamu mau foto nggak?” ayla melihat ke arah doyoung yang sedang sibuk mengedarkan pandangannya ke sana kemari, menikmati indahnya langit pagi.

dia menggeleng, “nggak, ah.”

ayla mengulum senyum tipisnya, ia mengeluarkan ponsel dari saku hoodie lalu mengambil gambar suaminya yang sedang menikmati indahnya karya semesta. sesekali pria itu tersenyum tipis kala ada petani teh yang menyapanya.

pagi tadi, saat matahari baru saja menunjukkan wajahnya di ufuk timur doyoung menajak ayla untuk bejalan-jalan di sekitar villanya. ia ingat kalau dulu mama dan papanya pernah bekerja di kebun teh ini. karenanya, banyak sekali para petani yang menyapa.

“doyoung teh anaknya pak soni bukan, ya?” tanya salah satu petani yang sekarang sedang sibuk memilah pucuk daun teh. kedua sudutnya terangkat penuh seiring dengan binar matanya yang memancar indah.

doyoung mengangguk, “iya, ibu..”

“bapak gimana, doy? sehat?” tanyanya.

doyoung diam, mencerna kalimat tanya yang dengan mudahnya keluar dari petani itu. dulu. dulu sekali saat mama dan papa kandungnya memilih bercerai, banyak orang yang tidak tau sebab doyoung dan mamanya pindah ke jakarta, menumpang di salah satu rumah teman mamanya— yang sekarang menjadi ibu angkat doyoung, mama ani yang memiliki status sebagai saudara kandung mamanya jaehyun.

karena dulu, ekonomilah yang menjadi salah satu perceraian mama dan papanya. jadi doyoung harus banting tulang untuk membayar uang kuliahnya sendiri.

mamanya meninggal satu minggu setelah hari wisudanya dan sampai sekarang pria itu tidak tau di mana kehadiran sang papa.

“do?” ayla menyenggol lengan suaminya. “okay?”

pria itu mengangguk, “okay!” lalu mengalihkan atensi pada si petani yang tadi bertanya dengannya. “nggak tau, bi. doyoung udah lama nggak ketemu papa.”

ayla mengambil lengan kekar suaminya, ia mengusap lembut bagian punggung tangan pria itu— seolah menyalurkan kekuatan yang ia punya. sebelum si petani teh itu bertanya lebih lanjut dan akan membuka luka lama sang suami, ayla memilih untuk memotong pembicaraan mereka. “bi, kita ke sana dulu ya.”

ia mengangguk lalu memokuskan dirinya pada tanaman teh di hadapan.

“mas, boleh nggak balik ke villa sampai sore nggak?” tanyanya sambil mengaitkan jemari lentiknya dengan jemari kekar milik sang suami.

doyoung terkekeh, “bilang aja mau berduaan sama aku.”

wanita itu mengangguk semangat. lalu tangannya terangkat untuk mengambil daun yang bertengger di rambut sang suami. “kalau nggak ada anak-anak aku maunya manja terus sama kamu, mas. kenapa, ya?”

doyoung mengangkat tangannya untuk mengapit pipi kanan dan kiri sang isteri. gemas. “astaga, bayiiiii! sini peluk dulu!” katanya sambil merentangkan tangan.

tentu saja ayla langsung menenggelamkan daksanya di pelukan sang suami. menghirup dalam-dalam wangi tubuh itu sampai terasa sesak. wangi yang akhir-akhir ini menjadi wangi kesukaannya. ia berjinjit, mendekatkan bibirnya pada telinga doyoung. katanya, “aku sayang kamu.”

suaminya tertawa, “me too. aku juga sayaaaaaaaang banget sama kamu.”

suasana sejuk di kebun teh seakan menjadi saksi bisu bagaimana cara mereka mengungkapkan rasanya masing-masing dengan jantung yang sama-sama tidak dapat dikendalikan. dan, untuk pertama kalinya ayla memohon dalam hati kepada semesta, “tolong jangan ambil siapa-siapa lagi..”

“heh— kok nangis?” doyoung menjauhkan tubuh isterinya kala mendengar isak tertahan yang berasal dari wanita itu. kuasanya terangkat untuk menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah cantik itu. “kenapa? aku kekencengan peluknya, ya? dadanya sesek? atau... laper? ayo balik ke villa deh, makan dulu!”

ayla menggeleng dan menarik tangan doyoung saat suaminya itu berusaha menggendongnya. “nggak...”

“terus kamu kenapaaaaaaa?” tanyanya penasaran. pasalnya tadi ayla tidak mengalami dan mengeluh apapun yang membuatnya merasa kesakitan.

setelah menatap dalam netra kecokelatam milik doyoung, ayla mengelap air matanya. suaranya berubah agak bindeng karena hidungnya tersumbat. ia tertawa kecil, “mau sama kamu selama-lamanyaaa.”

doyoung tertawa, kuasanya terangkat untuk mengelap air mata si pemilik netra legam di hadapan. “sure, sayang. aku di sini kok. jangan khawatirin apa-apa, ya?”

“mas,”

doyoung tersenyum manis. manis sekali. sampai ayla baru menyadari kalau ini adalah kali pertama pria itu tersenyum selepas ini. ah, kebun teh memang semenenangkan itu.

“ada apa, sayang?”

“mau peluk, boleh?” tanyanya sambil mengerucutkan bibir bak anak kecil yang meminta persetujuan sang ayah untuk membeli ice cream.

hal itu tentu saja membuat doyoung gemas. sebuah ide jail tiba-tiba muncul pada otaknya. telunjuk itu terangkat pada bibi kirinya, “cium dulu!”

dengan senang hati ayla mendekatkan wajahnya pada pipi, dahi dan terakhir bibir suaminya. sedangkan doyoung masih diselimuti ide jail langsung menahan kepala bagian belakang isterinya kala bibir mereka saling bertemu.

memang. pria itu suka tidak tau tempat. untung saja petani teh pagi ini hanya ada tiga orang saja. itupun jaraknya lumayan jauh dari mereka.

drrrt.

getaran ponsel ayla membuat wanita itu segera menjauhkan tubuhnya yang sudah dipeluk sang suami dengan paksa. “sebentar, ada pesan masuk.”

doyoung mengerucutkan bibirnya. “ganggu aja!” ocehnya sambil mengintip layar ponsel yang saat ini menjadi perhatian ayla. “siapa?”

ayla menggigit bibir bawahnya, ia ragu.

“EH! jangan digigit, aset aku!” kata doyoung sambil menepuk pelan bibir sang isteri. “coba sini aku liat siapa yang kirim pesan ke—”

“dokter ten...”

Hati adalah penentu.

Ayla melirik suaminya sekilas, memastikan bahwa pria itu baik-baik saja saat ini. Pasalnya iapun tidak tau apa yang membuat Doyoung berbicara sedemikian rupa di kamar Jaemin. Detik itu masih selalu membekas di benak Ayla. Walau sudah beberapa menit yang lalu, tapi rasanya begitu takut. Ia tidak lagi mau kehilangan sosok di sampingnya.

“Apa aja yang mau dibeli?” Doyoung memecah keheningan. Ia memutar stir mobilnya untuk masuk ke dalam salahsatu pusat perbelanjaan di Jakarta.

Bukan Ayla, kini justru puterinya yang berada di pangkuan wanita itu membuka suara. “Ice cream, permen, cokelat, em.... sama apalagi ya?” Ia mengetuk telunjuknya di bagian dahi, “ah! Rambut palsu!!!”

Doyoung tidak bisa menahan tawanya. Ia segera memarkirkan mobilnya, lalu berjalan memutar ke kursi penumpang. Ia membawa Raina ke dalam gendongannya lalu membantu Ayla untuk turun dari mobil.

“Mau beli apa?” Tanyanya lagi. Ia tidak juga melepaskan genggaman tangannya dari jari kecil milik sang isteri. “Bahan makanan pada habis, kan?”

Ayla menggeleng. Setelah resign, ia pasti memeriksa dan memastikan bahwa mereka tidak kehabisan bahan makanan di setiap malam. “Udah dibelanjain Mbak Ina pagi tadi di Pasar Besar.”

Doyoung mengangguk saja, ia mendudukkan Raina pada troli yang baru saja diambilnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong troli. Kemudian ia berjalan ke arah makanan ringan untuk di rumah karena barusan saja Raina merengek ingin dibelikan salah satu olahan rumput laut.

Melihat Raina sedang menimang jajanannya, Ayla segera berjalan mendekati suaminya. “Mas,”

Doyoung hanya berdeham saja tanpa mengalihkan pandangannya dari si anak bungsu.

“Mas kok tadi ngomong sama Jaemin gitu?” Ia memainkan jemari suaminya. “Kamu nggak lagi mau menyerah, kan?”

Doyoung mengibaskan tangannya, “ya nggak lah.”

“Terus?”

Pria itu mengerutkan dahinya pertanda bingung. “Kok terus? Aku cuma bic ara fakta, sayang. Selagi kamu sama aku, ya aku usahain bahagiamu.” Ia mengacak rambut isterinya gemas.

Seketika, atensi Doyoung beralih pada sepasang suami isteri yang berdiri tidak jauh dari mereka. Sedangkan Ayla kini malah sibuk memilih makanan ringan bersama Raina— sesekali Ibu dan anak itu berbeda pendapat tentang varian rasa yang mereka akan bawa pulang. Padahal Doyoung sudah meminta untuk beli saja keduanya kalau mereka menginginan beda varian. Toh, dimakan juga, kan?

Tapi semua ucapan Doyoung dipatahkan oleh Ayla dengan dalih, “Sayang uangnya. Lebih baik simpan, operasi Jeno bulan depan.”

“Mbak Ayla?” Pasangan suami isteri tadi berjalan pelan menghampiri Ayla yang sebelumnya sedang tertawa bersama Raina karena gadis kecil itu memperagakan salah satu iklan di televisi.

Ayla mengalihkan atensinya saat suara itu mengingrupsi. “Stef? Ah,— Jaehyun? Apa kabar?” Tanyanya ramah.

Stef tersenyum manis sembari mengangguk, tangan kanannya memegang tulip merah yang membuat Ayla sedikit mengerinyit. “Tulip merah?”

“Ah, ini...” Stef mengangkat bunganya, memperlihakan sepenuhnya ke arah Ayla. “Barusan dibeliin Jaehyun, Mbak.”

Ayla tersenyum tipis kala netranya menatap Jaehyun yang justru sedang tersenyum canggung— wajah pria itu bahkan terlihat agak menegang. Pasalnya dulu setiap kali Ayla meminta dibelikan bunga anyelir putih, Jaehyun sering mengatakan, “aku nggak suka bunga. Jangan simpan bunga apapun di rumah.”

Padahal, Ayla sangat menyukai Anyelir Putih. Karena kata Ibunya, Anyelir memiliki makna yang sangat dalam.

“Mbak?” Stef mengibaskan tangannya di depan wajah Ayla.

“Ah, iya?” Ayla menangkat kedua sudut bibirnya tipis. Ia berjalan ke arah Doyoung yang sekarang justru sedang terkekeh singkat.

“Kamu lucu kalau lagi kaget. Mikirin apa?” Tanyanya seolah tidak peduli dengan kehadiran Jaehyun, Stef juga puteri kecil mereka.

“Nggak. Nggak ada apa-apa.” Ayla memasukkan beberapa makanan ringan ke dalam troli.

Dengan tiba-tiba Jaehyun menahan pergerakan wanita itu kala memasukkan beberapa makanan ringan lagi. “Jangan makan ciki banyak-banyak.”

Doyoung maupun Stef mengerinyit kebingungan dalam diam. Tapi diam-diam mereka menunggu kalimat Jaehyun selanjutnya. “Gendut. Nanti tambah jelek.”

Brengsek.

Dia berbohong.

Manusia itu berbohong.

Jaehyun hanya tidak ingin kejadian duabelas tahun lalu terulang di hidup Ayla. Wanita itu harus diopname lima hari karena tidak memakan nasi dan memilih makanan ringan saja untuk mengisi perutnya.

“Nggak apa-apa gendut. Kan dia sudah jadi milik saya.” Doyoung mengangkat sebelah sudut bibirnya, “yang berhak mengatur hanya saya, kan?”

Hati adalah penentu.

Ayla melirik suaminya sekilas, memasukkan bahwa pria itu baik-baik saja saat ini. Pasalnya iapun tidak tau apa yang membuat Doyoung berbicara sedemikian rupa di kamar Jaemin. Detik itu masih selalu membekas di benak Ayla. Walau sudah beberapa menit yang lalu, tapi rasanya begitu takut. Ia tidak lagi mau kehilangan sosok di sampingnya.

“Apa aja yang mau dibeli?” Doyoung memecah keheningan. Ia memutar stir mobilnya untuk masuk ke dalam salahsatu pusat perbelanjaan di Jakarta.

Bukan Ayla, kini justru puterinya yang berada di pangkuan wanita itu membuka suara. “Ice cream, permen, cokelat, em.... sama apalagi ya?” Ia mengetuk telunjuknya di bagian dahi, “ah! Rambut palsu!!!”

Doyoung tidak bisa menahan tawanya. Ia segera memarkirkan mobilnya, lalu berjalan memutar ke kursi penumpang. Ia membawa Raina ke dalam gendongannya lalu membantu Ayla untuk turun dari mobil.

“Mau beli apa?” Tanyanya lagi. Ia tidak juga melepaskan genggaman tangannya dari jari kecil milik sang isteri. “Bahan makanan pada habis, kan?”

Ayla menggeleng. Setelah resign, ia pasti memeriksa dan memastikan bahwa mereka tidak kehabisan bahan makanan di setiap malam. “Udah dibelanjain Mbak Ina pagi tadi di Pasar Besar.”

Doyoung mengangguk saja, ia mendudukan Raina pada troli yang baru saja diambilnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong troli. Kemudian ia berjalan ke arah makanan ringan untuk di rumah karena barusan saja Raina merengek ingin dibelikan salah satu olahan rumput laut.

Melihat Raina sedang menimang jajanannya, Ayla segera berjalan mendekati suaminya. “Mas,”

Doyoung hanya berdeham saja tanpa mengalihkan pandangannya dari si anak bungsu.

“Mas kok tadi ngomong sama Jaemin gitu?” Ia memainkan jemari suaminya. “Kamu nggak lagi mau menyerah, kan?”

Doyoung mengibaskan tangannya, “ya nggak lah.”

“Terus?”

Pria itu mengerutkan dahinya pertanda bingung. “Kok terus? Aku cuma biara fakta, sayang. Selagi kamu sama aku, ya aku usahain bahagiamu.” Ia mengacak rambut isterinya gemas.

Seketika, atensi Doyoung beralih pada sepasang suami isteri yang berdiri tidak jauh dari mereka. Sedangkan Ayla kini malah sibuk memilih makanan ringan bersama Raina— sesekali Ibu dan anak itu berbeda pendapat tentang varian rasa yang mereka akan bawa pulang. Padahal Doyoung sudah meminta untuk beli saja keduanya kalau mereka menginginan beda varian. Toh, dimakan juga, kan?

Tapi semua ucapan Doyoung dipatahkan oleh Ayla dengan dalih, “Sayang uangnya. Lebih baik simpan, operasi Jeno bulan depan.”

“Mbak Ayla?” Pasangan suami isteri tadi berjalan pelan menghampiri Ayla yang sebelumnya sedang tertawa bersama Raina karena gadis kecil itu memperagakan salah satu iklan di televisi.

Ayla mengalihkan atensinya saat suara itu mengingrupsi. “Stef? Ah,— Jaehyun? Apa kabar?” Tanyanya ramah.

Stef tersenyum manis sembari mengangguk, tangan kanannya memegang tulip merah yang membuat Ayla sedikit mengerinyit. “Tulip merah?”

“Ah, ini...” Stef mengangkat bunganya, memperlihakan sepenuhnya ke arah Ayla. “Barusan dibeliin Jaehyun, Mbak.”

Ayla tersenyum tipis kala netranya menatap Jaehyun yang justru sedang tersenyum canggung— wajah pria itu bahkan terlihat agak menegang. Pasalnya dulu setiap kali Ayla meminta dibelikan bunga anyelir putih, Jaehyun sering mengatakan, “aku nggak suka bunga. Jangan simpan bunga apapun di rumah.”

Padahal, Ayla sangat menyukai Anyelir Putih. Karena kata Ibunya, Anyelir memiliki makna yang sangat dalam.

“Mbak?” Stef mengibaskan tangannya di depan wajah Ayla.

“Ah, iya?” Ayla menangkat kedua sudut bibirnya tipis. Ia berjalan ke arah Doyoung yang sekarang justru sedang terkekeh singkat.

“Kamu lucu kalau lagi kaget. Mikirin apa?” Tanyanya seolah tidak peduli dengan kehadiran Jaehyun, Stef juga puteri kecil mereka.

“Nggak. Nggak ada apa-apa.” Ayla memasukkan beberapa makanan ringan ke dalam troli.

Dengan tiba-tiba Jaehyun menahan pergerakan wanita itu kala memasukkan beberapa makanan ringan lagi. “Jangan makan ciki banyak-banyak.”

Doyoung maupun Stef mengerinyit kebingungan dalam diam. Tapi diam-diam mereka menunggu kalimat Jaehyun selanjutnya. “Gendut. Nanti tambah jelek.”

Brengsek.

Dia berbohong.

Manusia itu berbohong.

Jaehyun hanya tidak ingin kejadian duabelas tahun lalu terulang di hidup Ayla. Wanita itu harus diopname lima hari karena tidak memakan nasi dan memilih makanan ringan saja untuk mengisi perutnya.

“Nggak apa-apa gendut. Kan dia sudah jadi milik saya.” Doyoung mengangkat sebelah sudut bibirnya, “yang berhak mengatur hanya saya, kan?”

Hati adalah penentu.

Ayla melirik suaminya sekilas, memasukkan bahwa pria itu baik-baik saja saat ini. Pasalnya iapun tidak tau apa yang membuat Doyoung berbicara sedemikian rupa di kamar Jaemin. Detik itu masih selalu membekas di benak Ayla. Walau sudah beberapa menit yang lalu, tapi rasanya begitu takut. Ia tidak lagi mau kehilangan sosok di sampingnya.

“Apa aja yang mau dibeli?” Doyoung memecah keheningan. Ia memutar stir mobilnya untuk masuk ke dalam salahsatu pusat perbelanjaan di Jakarta.

Bukan Ayla, kini justru puterinya yang berada di pangkuan wanita itu membuka suara. “Ice cream, permen, cokelat, em.... sama apalagi ya?” Ia mengetuk telunjuknya di bagian dahi, “ah! Rambut palsu!!!”

Doyoung tidak bisa menahan tawanya. Ia segera memarkirkan mobilnya, lalu berjalan memutar ke kursi penumpang. Ia membawa Raina ke dalam gendongannya lalu membantu Ayla untuk turun dari mobil.

“Mau beli apa?” Tanyanya lagi. Ia tidak juga melepaskan genggaman tangannya dari jari kecil milik sang isteri. “Bahan makanan pada habis, kan?”

Ayla menggeleng. Setelah resign, ia pasti memeriksa dan memastikan bahwa mereka tidak kehabisan bahan makanan di setiap malam. “Udah dibelanjain Mbak Ina pagi tadi di Pasar Besar.”

Doyoung mengangguk saja, ia mendudukan Raina pada troli yang baru saja diambilnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong troli. Kemudian ia berjalan ke arah makanan ringan untuk di rumah karena barusan saja Raina merengek ingin dibelikan salah satu olahan rumput laut.

Melihat Raina sedang menimang jajanannya, Ayla segera berjalan mendekati suaminya. “Mas,”

Doyoung hanya berdeham saja tanpa mengalihkan pandangannya dari si anak bungsu.

“Mas kok tadi ngomong sama Jaemin gitu?” Ia memainkan jemari suaminya. “Kamu nggak lagi mau menyerah, kan?”

Doyoung mengibaskan tangannya, “ya nggak lah.”

“Terus?”

Pria itu mengerutkan dahinya pertanda bingung. “Kok terus? Aku cuma biara fakta, sayang. Selagi kamu sama aku, ya aku usahain bahagiamu.” Ia mengacak rambut isterinya gemas.

Seketika, atensi Doyoung beralih pada sepasang suami isteri yang berdiri tidak jauh dari mereka. Sedangkan Ayla kini malah sibuk memilih makanan ringan bersama Raina— sesekali Ibu dan anak itu berbeda pendapat tentang varian rasa yang mereka akan bawa pulang. Padahal Doyoung sudah meminta untuk beli saja keduanya kalau mereka menginginan beda varian. Toh, dimakan juga, kan?

Tapi semua ucapan Doyoung dipatahkan oleh Ayla dengan dalih, “Sayang uangnya. Lebih baik simpan, operasi Jeno bulan depan.”

“Mbak Ayla?” Pasangan suami isteri tadi berjalan pelan menghampiri Ayla yang sebelumnya sedang tertawa bersama Raina karena gadis kecil itu memperagakan salah satu iklan di televisi.

Ayla mengalihkan atensinya saat suara itu mengingrupsi. “Stef? Ah,— Jaehyun? Apa kabar?” Tanyanya ramah.

Stef tersenyum manis sembari mengangguk, tangan kanannya memegang tulip merah yang membuat Ayla sedikit mengerinyit. “Tulip merah?”

“Ah, ini...” Stef mengangkat bunganya, memperlihakan sepenuhnya ke arah Ayla. “Barusan dibeliin Jaehyun, Mbak.”

Ayla tersenyum tipis kala netranya menatap Jaehyun yang justru sedang tersenyum canggung— wajah pria itu bahkan terlihat agak menegang. Pasalnya dulu setiap kali Ayla meminta dibelikan bunga anyelir putih, Jaehyun sering mengatakan, “aku nggak suka bunga. Jangan simpan bunga apapun di rumah.”

Padahal, Ayla sangat menyukai Anyelir Putih. Karena kata Ibunya, Anyelir memiliki makna yang sangat dalam.

“Mbak?” Stef mengibaskan tangannya di depan wajah Ayla.

“Ah, iya?” Ayla menangkat kedua sudut bibirnya tipis. Ia berjalan ke arah Doyoung yang sekarang justru sedang terkekeh singkat.

“Kamu lucu kalau lagi kaget. Mikirin apa?” Tanyanya seolah tidak peduli dengan kehadiran Jaehyun, Stef juga puteri kecil mereka.

“Nggak. Nggak ada apa-apa.” Ayla memasukkan beberapa makanan ringan ke dalam troli.

Dengan tiba-tiba Jaehyun menahan pergerakan wanita itu kala memasukkan beberapa makanan ringan lagi. “Jangan makan ciki banyak-banyak.”

Doyoung maupun Stef mengerinyit kebingungan dalam diam. Tapi diam-diam mereka menunggu kalimat Jaehyun selanjutnya. “Gendut. Nanti tambah jelek.”

Brengsek.

Dia berbohong.

Manusia itu berbohong.

Jaehyun hanya tidak ingin kejadia

Rumah yang hancur.

Bersiap, ya? Banyak pelajaran yang harus diambil apalagi untuk kalian yang sudah menikah. Kalau yang belum? Jangan teburu-buru. Karena perceraian bukanlah jawaban yang dibenarkan.

Ayla menghela napasnya, seolah melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul di bagian punggungnya. Tangan itu terangkat untuk mengetuk pintu kamar Jaemin, lagi. “Na,”

Dari dalam tidak terdengar suara apapun yang tentu membuat Ayla mengerinyit bingung. Pasalnya, sedari siang tadi memang Jaemin tidak izin untuk pergi ke manapun. Dan rasanya tidak mungkin kalau anaknya yang satu itu pergi diam-diam.

Ayla meraih knop pintu itu, menekannya lalu didoron pelan. Matanya menyapu sekitar, berantakan. Tidak biasanya kamar Jaemin seperti ini. Sampai kemudian netra itu berhenti tepat pada daksa yang menyandarkan tubuhnya pada jendela balkon. Ia berjalan, menghampiri Jaemin yang sedang menatap langit biru dari bawah.

“Na, masih pusing?” Ayla menempelkan punggung tangannya di dahi Jaemin. Panas. Lebih panas dari sebelumnya. Netra pekat itu bergerak gelisah, “ke rumah sakit deh, Na. Ayo!”

Tangan Jaemin menahan pegerakan sang Bunda yang sedang berusaha untuk bangun dari posisinya. Netra milik Jaemin menatap lembut ke Sang Bunda. Bayangan Jaehyun juga keluarga kecil yang Jaemin lihat tadi malam masih dengan sempurna terputar di memori ingatannya. “Bun, memang setiap perceraian harus anak yang menanggang beban, ya?”

Wanita itu diam, ia berusaha merengkuh daksa anaknya. “Jaemin, kenapa?”

“Bun, kenapa Semesta menyatukan Bunda sama Dadah kalau pada akhirnya kalian dipisahkan?” Jaemin memejamkan matanya, berusaha menghilangkan potongan bayangan yang masih setia memutar di kepalanya. Jaemin belum cukup rela kala Sang Ayah kandung bersanding dengan wanita lain.

Anak mana yang merasa tidak sakit hati kalau penyebab dari perceraian kedua orang tuanya adalah orang ketiga? Lalu, sang Ayah dengan lantang memilih orang ketiga itu dan membuangnya. Tidak dilebihkan tapi perlu digaris bawahi kalau rasanya adalah hancur.

“Jaemin salah ya, Bun?” Dia menghela napasnya, menatap mata Bundanya dalam seolah mencari kebohongan di sana.

Ayla menggeleng, “kenapa Jaemin yang salah? Ini murni kesalahan Bunda sama Dadah. Maafin Bunda sama Dadah, ya, Jaemin?”

Sekarang, yang terlintas di benak Jaemin justru bagaimana harinya waktu semasa kecil. Ia merasa sangat disayang oleh Jaehyun selalu Ayahnya— walau beberapa keluarga Jaehyun mengatakan bahwa Jaemin bukanlah anak yang diingkan tapi dulu Bundanya pernah bilang, “kalau Nana nggak diinginkan sama Bunda dan Dadah, nggak mungkin Nana masih ada sama Bunda, kan?”

Benar juga. Bundanya selalu memiliki pemikiran seluas langit biru dan hati seluas samudera. Tapi Jaemin, Bunda tetap manusia. Ia akan merasa sakit kalau ada yang menyakiti. Hana saja, ia memang sudah terlalu biasa dalam menyembunyikan luka.

“Bun, Jaemin salah karena minta Bunda nikah sama Om Papa, ya?” Ia menghela napasnya. Netra kecokelatan itu kembali menatap langit biru sehingga membuat Ayla dapat melihat dengan jelas wajah pahatan tuhan itu dari samping.

Mirip sekali dengan Jaehyun. Mirip sekali.

“Jaemin kenapa berkali-kali dan sesering itu nanya tentang ini ke Bunda, sayang?” Ayla membenarkan posisi duduknya. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya, menunduk sebentar seolah mengambil kekuatan yang akan ia salurkan untuk Jaemin. “Kamu itu nggak salah. Bunda justru merasa sangat amat bahagia karena udah dipertemukan oleh manusia sebaik Papa Doyoung. Jangan terus-terusan merasa bersalah, ya? Bunda nggak suka lihat Jaemin Jaya gini..”

“Bun, tapi yang Jaemin lihat, Bunda nggak sebahagia waktu sama Dadah. Bunda nggak bisa senyum lebar ketika sama Om Papa. Jaemin ngerasa kalau Bunda butuh Om Papa hanya sebagai support system? Mungkin? Bukan sebagai pendamping hidup.” Jaemin menghela napasnya. Menyandarkan tubuh yang lelah itu di kaca.

“Jaemin... jangan buat Bunda merasa sebersalah ini... Jangan buat Bunda semakin takut untuk ambil langkah ke depannya.” Ayla menggenggam jemari anaknya, memejamkan mata barang lima detik. “Bunda... bahagia sama Papa Doyoung. Bunda selalu dapat apa yang selama ini Bunda cari ketika Bunda sama Papa Doyoung. Bunda bahkan nggak pernah merasa sekehilangan itu kecuali waktu Papa Doyoung pergi. Jaemin... jangan halangi langkah Bunda untuk cari kebahagiaan, ya?”

Jaemin terkekeh, “maafin Jaemin ya, Bun? Maafin Jaemin kalau jadi beban buat Bunda mencari kebahagiaan.

“Nggak gitu, jagoan.” Tangannya terangkat untuk menahan pergerakan Jaemin yang akan meninggalkannya di balkon bersamaan dengan perbincangan yang menyakitkan. Sangat. “Jaemin dengerin Bunda,

semesta punya cara sendiri untuk menyatukan pun memisahkan. Semesta menyatukan Bunda dengan Papa Do ya karena memang berarti Bunda miliknya Papa, bukan lagi Dadah.”

“Tapi kalau pada akhirnya Bunda kembali lagi sama Dadah? Apa artinya semua ini, Bunda? Semua penderitaan Bunda apalagi menunggu kepulangan Om Papa kemarin?” Jaemin menghempas tangan Bundanya. Lalu berjalan masuk ke dalam kamar yang ternyata sudah ada Doyoung.

“Kalau pada akhirnya Bunda kembali lagi sama Dadah kamu, itu artinya Om Papa sudah nggak ada di dunia, Jaemin. Karena kalau masih bisa menjaga Bunda dan kamu, Om Papa pasti usahakan.” Doyoung bangun dari posisinya berjalan ke arah Jaemin. Mengelus puncak kepala anak itu sebentar. Lalu netranya menatap Ayla yang masih berdiri di ambang pintu balkon. “Kalau suatu saat nanti kamu kembali ke Jaehyun, anggap saja ketika bersama aku itu pelajaran, petualangan dan perjalanan untuk kalian berdua.”

Doyoung menarik napasnya, menyembunyikan rasa sakit di dalam dada. “Pelajaran kalau mengucap kalimat perceraian itu membawa dampak yang sangat besar. Entah pada diri kalian masing-masing atau pada anak kalian.”

“Kok ngomongnya gitu?” Ayla berjalan mendekat ke arah suaminya. “Kamu... Nggak—”

“Aku nggak tau kapan Tuhan ambil nyawaku, Ay.”

A/N : AAAAAA NANGIS. NANGIS BANGET NULIS PART INI BYEBYE

Memulai.

Untuk tujuhbelas tahun.

Stef tersenyum kecil kala Jaehyun meletakkan daging panggang di piringnya. Dalam hati, ia senang luar biasa. Apalagi saat matanya mendapati anak keduanya tersenyum manis untuknya.

Haechan. Sore tadi anak itu memilih berkunjung ke rumah Jaehyun dengan alasan ingin meminjam topi milik Mark, padahal ia hanya ingin tau bagaimana keadaan Mamanya.

“Oom Jaehyun pinter masak, ya?” Tanya Haechan polos. Ia memasukkan sepotong daging yang baru saja diletakkan oleh Jaehyun di piringnya. Bolamata bulat itu mengerjap lucu, “enak banget!”

Kepala keluarga kecil itu terkekeh, “nggak juga sih, Chan. Tapi kalau dagingnya enak, yasudah berarti hari ini kita lagi beruntung.”

“Beruntung?” Mark yang sedang bermain dengan adik kecilnya itu menoleh sebentar.

Jaehyun langsung mengangguk, “ya beruntung karena Papa sudah sewa resto ini untuk kita. Dan kalau makanannya nggak enak jadi rugi.”

Stef yang sedaritadi memilih diam akhirnya berdiri, mengambil alih pekerjaan suaminya untuk memanggang daging. “Kamu duduk aja, pegangin Aurel— mungkin Mark mau makan duluan.”

Diam artinya setuju. Jaehyun segera menggeser tubuhnya ke dekat Mark yang masih setia memangku si puteri kecil. Dengan perlahan tangannya mengambil alih, “sini sama Papa.”

Diam-diam kedua sudut bibir Stef terangkat kala hatinya menghangat mendengar Jaehyun menyebut dirinya sendiri sebagai “Papa”

Ah, andai Stef mengakui sedari dulu kalau sebenarnya puteri berumur lima tahun di pangkuan Jaehyun itu puterinya dengan si pria. Pasti Jaehyun akan menganggap dirinya ada.

“Anak Papa mau makan apa lagi?” Jaehyun tersenyum manis kala Aurel mengerjapk